Permintaan KPR Mulai Naik

Jakarta Permintaan (demand) untuk kredit pemilikan rumah (KPR) mulai meningkat pada akhir September lalu dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut antara lain ditopang oleh relaksasi kebijakan ...

  • propertidata
  • 2016.10.06
  • 506

    view

  • Permintaan KPR Mulai Naik

    Jakarta – Permintaan (demand) untuk kredit pemilikan rumah (KPR) mulai meningkat pada akhir September lalu dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut antara lain ditopang oleh relaksasi kebijakan Bank Indonesia mengenai loan to value (LTV) properti dan rumah kedua, serta penawaran suku bunga single digit KPR.

    Direktur Konsumer PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan mengatakan, tren kenaikan permintaan KPR pascarelaksasi kebijakan BI sudah terlihat. Pasalnya, secara month to month (mtm) dari Agustus ke September 2016 penyaluran KPR perseroan meningkat 15% lebih.

    "Kenaikan itu mungkin disebabkan oleh gabungan relaksasi peraturan BI maupun amnesti pajak. Di samping itu, Bank CIMB Niaga pun kebetulan baru-baru ini menyelenggarakan Xtra Xpo di Ice BSD, Tangerang, selama dua hari," kata Lani kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (4/10).

    Berkaitan dengan Xtra Xpo pada akhir pekan lalu, Lani menjelaskan, melalui acara tersebut perseroan menawarkan suku bunga murah dan paket KPR manfaat yang memperhitungkan tabungan nasabah. Contoh tingkat bunga KPR yang ditawarkan sebesar 7,99%. "Kami mengurangi tingkat bunga KPR dan pembiayaan rumah syariah perseroan lebih murah lagi," kata dia.

    Saat ini pembiayaan mortgage Bank CIMB Niaga per bulan sebanyak 40% bersumber dari booking unit usaha syariah (UUS). Hal tersebut merupakan buah hasil strategi syariah first yang perseroan jalankan sejak awal tahun ini. "Sejalan dengan itu, booking rumah dari bisnis syariah mulai menanjak sejak kuartal II-2016. Kalau soal program bunga murah KPR akan kami lanjutkan sampai akhir tahun, sehingga banyak masyarakat yang dapat memiliki hunian melalui Bank CIMB Niaga," jelas Lani.

    Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank MNC Internasional Tbk Benny Purnomo mengatakan, relaksasi LTV BI pada akhir Agustus lalu mendukung kebangkitan bisnis industri properti.

    Hal ini terlihat dari pertumbuhan KPR Bank MNC pada Agustus ke September 2016 yang naik sebesar 15%. "Berkaitan dengan relaksasi inden rumah kedua, kami belum fokus menggarap bisnis itu," ungkap dia.

    Hal senada juga dikatakan SVP Consumer Loan Group PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Harry Gale. Menurut dia, permintaan KPR terlihat meningkat signifikan pada akhir September lalu dibandingkan bulan sebelumnya.

    Menurut dia, kenaikan tersebut adalah dampak dari relaksasi LTV. Oleh sebab itu, Bank Mandiri mengharapkan tren kenaikan KPR akan berlanjut secara berkesinambungan hingga pengujung tahun ini.

    Direktur Konsumer PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Anggoro Eko Cahyo juga berharap, momentum kenaikan bisnis KPR BNI dapat terus terjaga hingga akhir tahun ini. Pada akhir September 2016, aplikasi KPR BNI melesat hingga 50%. BNI pun masih menjalankan program suku bunga KPR single digit.

    Sementara itu, Direktur Bisnis PT Bank BNI Syariah Kukuh Rahardjo mengatakan, pada September 2016 ada tren kenaikan pembiayaan griya di atas rata-rata yang perseroan capai. Hanya saja besaran kenaikan tersebut belum signifikan sebesar 2,5% (mtm). "Per September lalu, nominal pembiayaan griya BNI Syariah mencapai Rp 245 miliar. Itu terdiri atas pembiayaan rumah pertama dan seken," kata dia, Rabu (5/10).

    Mengenai komposisi pembiayaan rumah, Kukuh menegaskan, porsi rumah seken dijaga di kisaran 20-25%. Sebab, bank umum syariah (BUS) ini ingin fokus pada pembiayaan rumah pertama. "Saat ini, posisi NPF (non performing financing/NPF) bisnis tersebut masih terjaga di angka 2,08%. Sejak tahun 2011 kami tidak pernah ada write off (hapus buku) pembiayaan griya," papar dia.

    Sementara itu, Direktur Keuangan dan Treasury PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Iman Nugroho Soeko mengatakan, relaksasi BI berapa waktu lalu dapat menjadi salah satu pendorong pertumbuhan kredit perbankan di sektor properti.

    Fokus penyaluran KPR BTN adalah subsidi (masyarakat berpenghasilan rendah/MBR) dan KPR nonsubsidi dengan segmen masyarakat menengah bawah. Oleh karena itu, komposisi KPR nonsubsidi BTN untuk menengah atas hanya mencapai 38% terhadap total outstanding KPR perseroan. Dengan demikian, ketentuan LTV BI cukup mendukung pertumbuhan KPR perseroan. "Karena itu, dari dulu KPR subsidi BTN bisa tumbuh sekitar 30% dan nonsubsidi sekitar 15%," jelas dia.



    Devie Kania/THM

    Investor Daily

    beritasatu.com

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci