Bantuan untuk Toni Ruttimann Terus Mengalir

JAKARTA, KOMPAS.com -Bantuan untuk Toni Ruttimann terus mengalir pasca sosiolog Imam B Prasodjo mengunggah kisah menarik mengenai sosok relawan asal Swiss tersebut di akun Facebook pribadinya pada Rabu ...

  • propertidata
  • 2016.10.06
  • 59

    view

  • Bantuan untuk Toni Ruttimann Terus Mengalir

    JAKARTA, KOMPAS.com - Bantuan untuk Toni Ruttimann terus mengalir pasca sosiolog Imam B Prasodjo mengunggah kisah menarik mengenai sosok relawan asal Swiss tersebut di akun Facebook pribadinya pada Rabu (28/9/2016). 

    Baca: Kisah Toni Ruttiman, Relawan Asal Swiss yang Bangun Daerah Terpencil di Indonesia

    Menurut Imam, bantuan tersebut salah satu di antaranya bahkan datang dari Direktur Jenderal (Dirjen) Bea Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi yang justru menjadi sasaran kemarahan publik. 

    Padahal, kata Imam, tertahannya tiga kontainer wire rope itu sama sekali bukan kesalahan Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea Cukai. Justru mereka po-aktif membantu.

    Namun mereka mengalami kesulitan karena lambatnya pengurusan dokumen dari intansi terkait.

    Akibat kelambanan ini, biaya pemakaian peti kemas atau demurrage di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, jadi membengkak. 

    Untuk diketahui, jumlah biaya demurrage per 26 September 2016 yang ditagihkan kepada Toni atas tiga kontainer wire rope diketahui senilai Rp 195.650.000.

    Biaya tersebut bakal terus melonjak, mempertimbangkan saat ini sudah memasuki penghujung minggu pertama Oktober 2016. 

    Kompas.com terus berupaya mendapatkan biaya demurrage aktual, namun pihak terkait yakni perusahaan kargo yang menangani tiga kontainer tersebut masih melakukan meeting internal.

    "Saya memang prihatin terhadap nasib Toni yang sejak tiga tahun lalu keluar masuk wilayah terpencil di Indonesia untuk mendorong warga desa bergotong-royong membangun 61 jembatan gantung secara swadaya di Indonesia," papar Imam kepada Kompas.com, Kamis (6/10/2016). 

    Imam menambahkan, selain Dirjen Bea Cukai yang memperlancar proses pelepasan tiga kontainer, bantuan juga datang dari Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki.

    Teten menjanjikan bantuan semen dari Semen Indonesia yang digunakan sebagai material membangun jembatan gantung. 

    Facebook Imam B Prasodjo Beberapa jembatan karya Toni Ruttimann yang disumbangkan untuk desa-desa terpencil di wilayah Indonesia.

    Sementara Menteri Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono berkomitmen untuk membayar seluruh biaya demurrage.

    Komitmen tersebut diperkuat oleh Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto. 

    "Kami akan membayar semua denda dan biaya pelabuhan. Kami sedang menunggu invoice (tagihan) akhir," ujar Arie.

    Komitmen ini, lanjut Arie, merupakan bentuk apresiasi sekaligus dukungan Kementerian PUPR terhadap Toni Ruttimann sebagai relawan asing yang telah membantu membangun 61 jembatan secara swadaya di Indonesia.

    Tak hanya membayar semua denda dan biaya pelabuhan, Kementerian PUPR juga akan memberikan pendampingan kepada Toni dan tim relawan sampai semua aktivitas pembangunan jembatan secara swadaya tersebut berjalan lancar.

    "Termasuk pasca-konstruksinya," imbuh Arie. 

    Arie menekankan, Kementerian PUPR siap memecahan masalah dan mendukung Toni, dan juga relawan-relawan lainnya jika terbentur kendala di lapangan. Satu di antara kendala tersebut adalah penjaminan ke Direktorat Jenderal Bea Cukai.

    Atas semua bantuan untuk memperlancar proses pelepasan tiga kontainer wire rope tersebut, Imam mengucapkan terima kasih. 

    Karena itu, dia siap ketika diminta Arie untuk mengatur pertemuan dengan Toni Ruttiman di kantor Kementerian PUPR, Jl Pattimura 20, Jakarta Selatan, minggu depan.

    "Minggu depan bisa," tandas Imam.

    Baca: Minggu Depan, Kementerian PUPR Gelar Pertemuan dengan Toni Ruttimann

    Siapa Toni Ruttimann?

    Toni Ruttimann merupakan relawan yang diam-diam masuk keluar kampung wilayah terpencil di Indonesia.

    Facebook Imam B Prasodjo Toni Ruttimann, sang pembangun jembatan yang sudah banyak membantu membangunkan jembatan gantung di Indonesia.

    Selama tiga tahun, Toni mengajak warga bergotong royong membangun jembatan gantung sendiri karena akses jalan terputus.

    "Toni datang ke negeri kita karena ia melihat begitu banyak anak di negeri ini bergelantungan harus pergi sekolah menyeberangi sungai dengan jembatan yang rusak," ujar Imam.

    Melihat kondisi tersebut, Toni pun berinisiatif untuk mengumpulkan bahan-bahan jembatan gantung dari negerinya, Swiss.

    Dia juga mengupayakan bantuan pipa dari perusahaan ternama yang pemiliknya ia kenal baik agar bersedia mengirim bantuan pipa tiang jembatan dari Argentina ke Indonesia.

    Toni merekrut beberapa tenaga kerja Indonesia untuk dijadikan staf dan membantu semua upaya tersebut.

    properti.kompas.com

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci