Industri Keramin Nasional  Juga Terpukul Keramik Impor

Ekonomi Tiongkok diperkirakan masih melambat di tahun ini. Hasil survei yang digelar Bloomberg menunjukkan, ekonom global memperkirakan, ekonomi Tiongkok tahun ini akan melaju 6,5%, lalu pada tahun 2017 ...

  • propertidata
  • 2016.10.06
  • 81

    view

  • Industri Keramin Nasional  Juga Terpukul Keramik Impor

    Ekonomi Tiongkok diperkirakan masih melambat di tahun ini. Hasil survei yang digelar Bloomberg menunjukkan, ekonom global memperkirakan, ekonomi Tiongkok tahun ini akan melaju 6,5%, lalu pada tahun 2017 melambat lagi menjadi 6,3%. Pelambatan ekonomi ini memunculan kekhawatiran bagi penggiat industri dalam negeri.

    Seperti diulas Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Oktober 2016, menyebutkan ketika ekonomi melambat, daya beli di Negeri Tirai Bambu/Tiongkok turun maka  pelaku industri manufaktur di Tiongkok akan mencari peluang pasar baru, yaitu ekspor ke luar negeri, salah satunya adalah Indonesia.

    Inilah yang menjadi ancaman bagi industri manufaktur di Indonesia. Apa lagi, Indonesia telah memiliki kerja sama perdagangan bebas dengan Tiongkok lewat Asean-China Free Trade Area (ACFTA). Dengan kerja sama ini, produk industri dari Tiongkok bisa melenggang masuk ke Indonesia. Salah satunya, industri keramik.

    Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, sepanjang Januari-April 2016, seperempat total impor Indonesia berasal dari Tiongkok. Impor dari Tiongkok mencapai USD 9,65 miliar atau 25,76 persen dari total impor non-migas yang sebesar USD 37,47 miliar. Jadi bisa dibilang saat ini ketergantungan konsumsi kita maupun untuk barang modal dari Tiongkok.

    Selama ini, produk keramik asal Tiong kok membanjiri Indonesia dan dijual lebih murah dibandingkan produk lokal. Terang saja konsumen lebih memilih produk yang lebih murah. Dari penuturan Elisa, harga keramik impor dari Tiongkok ukuran 60×60 atau 80×80 sebesar Rp.75.000, sedangkan Indonesia tergantung dengan motif dan desainnya sehingga bisa di atas Rp.75.000.

    Selain itu, faktor seperti terdepresiasinya rupiah terhadap dolar di mana pengusaha membeli gas menggunakan mata uang dolar Amerika dinilai berat. Belum lagi dengan faktor kurangnya produktivitas tenaga kerja dan mahalnya ongkos logistik.

    “Tapi yang jelas di sana barang yang diimpor ke sini karena belinya saja murah sekali, makanya importir itu sudah banyak sekali,” ujar Elisa. Ia khawatir di masa mendatang, para pelaku industri beralih menjadi importir karena tidak bisa bersaing dengan negara lain soal harga. Jika itu terjadi, maka akan berdampak berkurangnya tenaga kerja.

    Industri berharap dengan kondisi Tiongkok saat ini, permintaan domestik akan produk lokal semakin besar pula. Hanya saja tidak ada jaminan produk impor ini akan menurun dengan sendirinya. Elisia mewanti-wanti, jangan sampai ketika pasar Indonesia berangsur pulih, tetapi industri dalam negeri tidak mampu mengimbangi.

    “Tentunya laju keramik impor akan semakin deras,” tegasnya. Untuk diketahui, produk keramik Tiong kok dijual lebih murah karena kapasitas produksi disana lebih besar, sehingga biaya produksi menjadi lebih efisien. Karena harga murah inilah, produk keramik Tiongkok leluasa ekspor ke banyak negara.

    Sampai akhir tahun 2015, Asaki meng indikasikan jumlah impor keramik dari Tiongkok sudah mencapai dua kali lipat dari kapasitas produksi keramik Indonesia yang mencapai 18 juta meter persegi (m2) per tahun. MPI?MRR. Versi digital MPI dapat diakses melalui http://www.wayang.co.id/index.php/majalah/properti-indonesia atau https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia . lebih praktis dan lebih ekonomis.

    mpi-update.com

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci