Harga Gas yang Tinggi Ikut Menekan Industri Keramik

Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Oktober 2016 menurunkan ulasan industri keramij yang diingatkan untuk berhati-hati menyusul menurunnya kinerja bisnis properti dan tingginya harga gas. Hal tersebut ...

  • propertidata
  • 2016.10.06
  • 49

    view

  • Harga Gas yang Tinggi Ikut Menekan Industri Keramik

    Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Oktober 2016 menurunkan ulasan industri keramij yang diingatkan untuk berhati-hati menyusul menurunnya kinerja bisnis properti dan tingginya harga gas.

    Hal tersebut mengakibatkan daya serap industri keramik ikut terkena dampaknya. Ketua Asosiasi Aneka Industri  Keramik Indonesia (Asaki), Elisa Sinaga,Elisa menganalisa ada dua faktor utama yang menyebabkan penjualan keramik mengalami penurunan pada semester pertama 2016. Yang pertama dari sisi market, yaitu kondisi industri properti yang masih stagnan.

    Padahal, industri properti merupakan market terbesar dari keramik. Yang kedua adalah harga gas un tuk industri keramik masih tinggi. Masalah harga gas yang tinggi, kata dia, merupakan masalah yang sudah lama. Pihak asosiasi, kata Elisa, sudah meminta pemerintah agar menurunkannya. “Pada kenyataannya, harga gas yang dibeli pelaku industri masih mencapai USD 9/ mmbtu.

    Sementara, harga gas negara tetangga di bawah USD 5/mmbtu. Pemerintah tidak pernah serius soal harga gas, hanya janji-janji palsu,” ujar dia. Upaya pemerintah melalui Paket Kebijakan Ekonomi III di Bulan September 2015 menurut Elisa juga tidak memberikan dampak.

    Hal ini dikarenakan kebijakan yang dikeluarkan tidak diimplementasikan dengan baik. “Paket Kebijakan itu kan memberikan janji untuk menurunkan harga, tetapi pada kenyataannya harga gas masih belum turun. Itu hanya retorika saja. Terlalu banyak birokrasi,” tegasnya.

    Elisa menilai, keraguan pemerintah untuk menurunkan harga gas didasari atas ketakutan berkurangnya pendapatan dari sktor energi. Padahal, jika harga diturunkan, pemerintah akan mendapatkan pemasukan dari sector lain yang berkembang, tertutama sector manufaktur.

    “Hitung-hitungannya kan begitu. Kalau harga gas turun, maka industri akan semakin bergairah. Jika industri maju tentunya pajak yang ditarik oleh pemerintah dari manufaktur akan besar. Bahkan nilainya lebih besar dari berkurangnaya pendapatan dari sector energi,” terang  Elisa.

    Jika harga gas tidak diturunkan, lanjutnya, industri keramik akan mengalami kesulitan. Terlebih, harga gas sangat mempengaruhi biaya produksi, semakin tinggi harga gas maka biaya produksi semakin besar.

    “Pada tahun 2013 ketika pemerintah menaikkan harga gas karena harga minyak dunia yang tembus USD 100 per barrel, mereka langsung menaikkan ke level USD 7,56/mmbtu dari sebelumnya USD 4,3/mmbtu. Itu pemerintah tidak melibatkan asosiasi industri terkait. Dan sekarang harga minyak dunia sudah jatuh, tetapi harga gas masih sangat tinggi.

    Harga gas industri di Indonesia yang tertinggi di Dunia,” tambahnya. Asaki, kata dia, menagih janji pemerintah untuk menurunkan harga gas secepat mungkin. Meski harga gas tidak berpengaruh pada penjualan, paling tidak industri bisa bertahan dan memperluas pasar ekspor.

    “Tidak perlu semurah negara tetangga. Turun menjadi USD 7/mmbtu saja sangat membantu bagi beberapa pabrik yang sudah berat sekali menanggung biaya produksi. Setidaknya, dengan penurunan harga gas, mereka tidak melepas karyawan atau berhenti produksi,” kata Elisa.

    Saat ini, dia mengatakan, industri yang masih bertahan memilih menurunkan harga jual hingga 15-20% atau di bawah biaya produksi. Jika harga gas turun, industri masih akan mendapatkan sedikit keuntungan, karena biaya produksi turun.

    “Kalau harga gas tidak bisa direalisasikan, ada kemungkinan bisa deindustrialisasi. Saat ini, industri sudah mengurangi utilisasi hingga 30-50%. Sangat tidak baik kalau realisasi penurunan harga gas terlalu lama. Kita yakin sekali pemerintah akan merealisasikan penurunan tahun ini. Paling lambat kami harap paling tidak minggu ini,” kata Elisa.

    Ancaman deindustrialisasi ini bukan gertakan semata. Elisa menyebukan pada tahun ini, ada beberapa pabrik keramik yang tutup. “Ada yang perusahaannya benar-benar tutup, ada juga yang kemudian pindah haluan menjadi distributor saja. Akan tetapi saya tidak mau menyebutkan siapa, karena tidak etis,” sebutnya. Dia menam – bahkan, keputusan penutupan perusahaan tersebut dipastikan bukan hanya terpengaruh peningkatan beban biaya.

    “Ada yang sudah tutup memang bukan sepenuhnya masalah peningkatan beban biaya, mungkin bisa saja karena manajemennya, atau mungkin harga di pasaran yang relatif rendah,” ujarnya.

    Padahal, sepanjang 2014, industri keramik nasional memiliki kapasitas 1,8 juta meter persegi per hari dan produksi 1,6 juta meter persegi per hari. Dari jumlah tersebut, 87% diserap pasar lokal dan 13% diekspor. Nilai penjualannya mencapai Rp.30 triliun dengan jumlah produsen keramik lantai dan dinding berjumlah 35 perusahaan dengan jumlah pabrik 95 unit. (MPI/MRR). Versi digital MPI dapat diakses melalui http://www.wayang.co.id/index.php/majalah/properti-indonesia dan https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia

    mpi-update.com

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci