Agar Ibu-ibu Tak Bergosip, Wali Kota Banda Aceh Bangun Balee Inong

Big Banner

BANDUNG, KOMPAS.com – Kontribusi perempuan dalam terciptanya konsep kota cerdas (smart city) di Banda Aceh, Aceh, sangat signifikan. Hal ini terlihat dari penetrasi program internet sehat dan cerdas, kesehatan cerdas, dan pendidikan cerdas.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menggambarkan, betapa kondisi terkini kota yang nyaris habis disapu tsunami ini kembali dinamis berkat peran perempuan. Mereka bergairah mendatangi “Balee Inong”, sebuah ruang komunitas yang dibangun untuk memfasilitasi perempuan Aceh menyalurkan kreativitas.

Dari “Balee Inong” tersebut, para perempuan yang terdiri dari ibu muda, ibu paruh baya, dan remaja, membawa ide dan gagasan ke gampong-gampong (kampung) mengajak sesama lainnya berpartisipasi mengubah gaya hidup menjadi lebih produktif.

“Ya salah satu tujuan dibangunnya “Balee Inong” ini untuk mengajak para perempuan Aceh lebih produktif, tidak bergosip. Mereka punya waktu untuk menyalurkan kreativitasnya dan punya potensi menghasilkan ekonomi,” tutur Illiza kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2015).

Illiza melanjutkan, “Balee Inong” ini dilengkapi dengan jaringan internet cerdas yang dapat diakses dan dimanfaatkan oleh perempuan-perempuan Aceh sebagai sarana berkomunikasi, berpromosi produk kerajinan, dan juga menjajaki kemungkinan-kemungkinan berbisnis dengan koleganya di kota lain, bahkan luar negeri.

Untuk terus mendukung aktivitas tersebut, Pemerintah Kota Banda Aceh mengalokasikan  anggaran sekitar 80 persen dari total dana bergulir Rp 5 miliar untuk penguatan ekonomi masyarakat. Sisa 20 persen lainnya dialokasikan untuk kegiatan kaum laki-laki.

Dana tersebut, kata Illiza, didapat dari sumbangan lembaga-lembaga nirlaba macam Ford Foundation, dan juga dana corporate social responsibility (CSR) perusahaan yang beroperasi di Banda Aceh.

Tak hanya “Balee Inong”, Banda Aceh juga kini sedang mempersiapkan ruang pengendali atau controll room dalam rangka teerciptanya pengelolaan kota yang efektif, efisien dan produktif.

“Saat ini pembangunan controll room yang dapat memonitor operasionalisasi di satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan juga kondisi aktual di lapangan sudah memasuki tahap akhir. Insha Allah, akhir tahun ini bisa beroperasi,” ungkap Illiza.

Dengan menerapkan konsep kota cerdas ini, Illiza berharap dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi akan semakin besar. Menurut dia, saat sebelum konsep kota cerdas diterapkan, yakni pada 2007, penerimaan asli daerah (PAD) Banda Aceh hanya Rp 5 miliar. Kini setelah Banda Aceh menjadi cyber city, dan kemudian smart city, PAD melonjak menjadi Rp 135 miliar.

“Kami akan terus menggenjot PAD dengan mendatangkan investor-investor luar untuk berinvestasi di sektor pariwisata, jasa, dan juga kuliner. Setelah smart city, obsesi kami berikutnya adalah future city. Bahwa Banda Aceh akan bertransformasi menjadi kota masa depan yang diidamkan banyak orang,” tutup Illiza.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me