4 Hal yang Harus Dihindari Pasangan Muda Saat Membeli Rumah Pertama

Big Banner

Di banyak negara di luar sana, tahun 2015 diperkirakan menjadi tahunnya para first time home buyer atau mereka yang baru pertama kali membeli rumah. Meski Indonesia masih terlilit dengan persoalan industri yang tidak menggembirakan, pastinya ada saja pembeli rumah pertama yang saat ini sedang menimbang-nimbang, akankah membeli rumah saat ini, mumpung harga sedang bergerak lambat atau menunggu sampai kondisi pulih dengan risiko harga rumah pasti sudah bergerak meninggi.

Nah, bagi pasangan muda yang belum memiliki rumah sendiri, keputusan untuk membeli rumah bukan sekadar persoalan kebutuhan yang harus dipenuhi maupun kemampuan Anda untuk menyicil pinjaman saban bulan. Lebih dari itu, ini menyangkut risiko, konsekwensi dan berbagai kemudahan yang akan Anda lalui pada periode hingga rumah tersebut 100% menjadi milik Anda. Apalagi jika bank menjadi pihak yang Anda andalkan untuk membiayai keputusan ini.

Berikut 6 hal penting yang kerap diabaikan pembeli rumah pertama ketika memutuskan membeli rumah:

DP dari uang pinjaman

Sudah jamak, kesulitan kaum profesional atau kalangan bergaji dalam membeli rumah adalah pada ketersediaan dana awal sebagai uang muka. Itu pula yang menyebabkan banyak pengembang yang membidik pembeli rumah pertama menyediakan sejumlah kemudahan dalam hal uang muka seperti, uang muka (down payment) bisa dicicil hingga sekian kali. Peringatan yang penting bagi Anda, jangan pernah menggunakan uang pinjaman atau kredit sebagai uang muka. Apalagi jika mengandalkan pelunasan rumah dari KPR (kredit pemilikan rumah).

Terpaku pada cicilan kredit pemilikan rumah

Benar bahwa dengan keuangan yang pas-pasan, Anda akan berjibaku agar pinjaman Anda disetujui perbankan. Itu sebabnya, kebanyakan orang menghabiskan batas toleransi kemampuannya mencicil pinjaman, hanya untuk membeli rumah. Mereka lupa, mestinya ada ruang yang harus disisihkan untuk mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan yang muncul saat rumah baru itu dihuni. Seperti, asuransi properti, pajak, kelengkapan perabotan, biaya renovasi kecil yang mungkin harus dilakukan, biaya pemeliharaan lingkungan dan lain-lain yang mungkin nilainya kecil-kecil namun jika diakumulasikan setiap bulan bisa mencapai 50% dari nilai cicilan Anda.

Proyeksi pertumbuhan nilai rumah

Pembeli rumah yang paling potensial untuk menjual kembali rumahnya adalah para first time home buyer atau pasangan muda yang sedang kita bicarakan ini. Sebuah riset pasar yang dirilis baru-baru ini menyebutkan, rata-rata kalangan ini hanya bertahan selama 4 tahun di rumah pertama mereka. Setelah itu, rumah pertama akan dijual dan mereka pindah ke rumah yang lebih besar lagi. Di Indonesia mungkin tidak sesingkat ini tetapi konklusi ini masuk akal karena seiring bertambahnya anggota keluarga seperti kelahiran anak-anak, orang akan membutuhkan rumah yang lebih luas dengan  jumlah kamar yang lebih banyak. Maka, bagi para pembeli rumah pertama, jangan pernah abai untuk mencari sebanyak mungkin informasi mengenai prospek pertumbuhan nilai rumah di masa depan agar Anda bisa menikmati keuntungan dari naiknya harga rumah.

Punya catatan hitam, jangan pernah andalkan bank

Cek dengan baik, apakah Anda atau pasangan Anda pernah punya masalah dengan bank dalam hal kredit atau pinjaman bermasalah? Ini penting, karena perilaku beberapa nasabah ketika masih lajang, cenderung boros dan tidak menata keuangan dengan baik hingga akhirnya terjebak pada cicilan kartu kredit yang macet dan direkam oleh otoritas perbankan. Bahkan, kalau perlu Anda samasekali tidak perlu memikirkan pembiayaan dari perbankan jika sudah tahu, punya catatan hitam dan belum dibereskan.  Sistim informasi debitur (SID) di Bank Indonesia memberikan tenggang waktu transisi bagi para debitur yang membereskan kewajibannya, sebelum boleh mengajukan pinjaman lagi. (Foto: Istimewa)

rumah123.com