Atur Uang Muka KPR, BI Tidak Ingin Lemahkan Industri Properti

Big Banner

Jakarta – Juru bicara Bank Indonesia Difi Johansyah mengatakan aturan uang muka Kredit Pemilikan Rakyat untuk pembelian rumah kedua, ketiga, dan seterusnya tidak dimaksudkan untuk melemahkan industri properti. “Kami hanya ingin industri tumbuh secara sustainable bukan karena utang,” katanya dalam acara diskusi ‘DP Rumah Naik vs Penyediaan Hunian Rakyat’ di hotel Le Meridien, Minggu, 21 Juli 2013.

BI menginginkan adanya penjaga antara pertumbuhan di sektor properti dan perbankan. Berdasarkan data BI pertumbuhan kredit properti di bulan Mei saja untuk tipe bangunan di atas 70m2 mencapai 25,9 persen. Sedangkan realisasi penyaluran KPR/KPA untuk tipe 70m2 hingga Mei mencapai Rp 98,3 triliun.

Difi menjelaskan, alasan BI mengeluarkan aturan itu guna menjaga kredit yang disalurkan di sektor properti. Sebab, ketika nilai agunan turun maka perbankan akan terkena dampaknya.”Kita ingin perbankan tidak terkena kalau terjadi sesuatu di sektoral,”katanya.

Berdasarkan survey yang dilakukan BI, konsumen sekarang menjadikan properti untuk investasi bukan lagi kebutuhan primer.”Bahkan lebih tinggi dari reksadana, saham, dan emas. Properti yang dibeli belum tentu untuk ditinggali tapi untuk investasi, kalau begini tidak menyelesaikan masalaha kebutuhan perumahan untuk penghuni.?”kata Difi.

Ia melanjutkan, disparitas harga yang kini terjadi di sektor properti mengakibatkan harga tanah semakin meningkat. Sehingga, masyarakat kelompok ekonomi menengah ke bawah tidak dapat menjangkaunya.

Bank Indonesia akan menetapkan aturan uang muka kredit kepemilikan rumah di atas 70 meter persegi. Untuk KPR di atas 70 meter persegi, BI menetapkan uang muka minimal 30 persen bagi kredit pemilikan pertama, minimal 40 persen bagi kepemilikan kedua, minimal 50 persen bagi kepemilikan ketiga, dan seterusnya.?

Aturan ini dibuat setelah BI mencermati pertumbuhan kredit yang signifikan untuk properti yang dimaksud. Mengacu pada data BI per Mei 2013, KPR tipe 70 meter2 naik 25,9 persen dengan baki debet Rp 98,3 triliun. Kredit untuk flat atau apartemen tipe 21 meter2 tumbuh 100,3 persen dengan baki debet Rp 700 miliar. Flat atau apartemen tipe 22 – 70 meter2 tumbuh 111,1 persen dengan baki debet Rp 6,2 triliun. Sementara itu, Flat atau apartemen tipe di atas 70 meter2 tumbuh 60,3 persen dengan baki debet 4,5 triliun.?

RIRIN AGUSTIA

properti.tempo.co