Harga Rumah Bakal Terus Tertekan

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Tekanan pertumbuhan harga rumah yang terjadi pada kuartal pertama tahun 2015 ini diprediksi akan terus berlanjut pada kuartal kedua nanti.

Menurut Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) yang dirilis pada Rabu (13/5/2015), indikasi tekanan kenaikan harga terlihat dari kenaikan tipis yang hanya mencapai 1,44 persen secara triwulanan atau 6,27 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut lebih rendah ketimbang catatan kuartal sebelumnya sebesar 1,54 persen secara triwulanan atau 6,29 persen secara tahunan. Kenaikan harga bahan bangunan, upah pekerja, dan bahan bakar minyak (BBM), masih menjadi faktor utama penyebab pertumbuhan harga rumah.

Perlambatan pertumbuhan harga triwulanan terjadi pada semua tipe rumah, kecuali rumah tipe kecil yang mengalami kenaikan harga lebih tinggi yakni 1,98 persen, dari kenaikan sebelumnya 1,43 persen. 

Berdasarkan 16 wilayah yang disurvei BI, pertumbuhan harga rumah di Bandar Lampung tercatat paling rendah, yakni hanya 0,26 persen. Ini terutama terjadi pada rumah tipe besar 0,0 persen.

Sebaliknya, Makassar di Sulawesi Selatan, menunjukkan kinerja pertumbuhan harga tertinggi, sebesar 5,05 persen yang terjadi pada rumah tipe menengah (8,01 persen). Pesatnya perekonomian di kota ini dalam lima tahun terakhir, membaiknya kondisi infratsruktur dan transportasi, serta kemudahan perizinan mendorong investor melakukan investasi di sektor konstruksi.

“Ada pun perlemahan pertumbuhan harga rumah secara tahunan terjadi pada rumah dengan tipe besar, sementara rumah tipe kecil mengalami kenaikan harga paling tinggi,” tulis BI.

Menurut BI, berdasarkan wilayah, yang mengalami perlambatan kenaikan harga rumah terbesar secara tahunan adalah Bandar Lampung, dan Yogyakarta. Sementara kenaikan harga tertinggi secara tahunan terjadi di Makassar, dan Manado.

Selain perlambatan kenaikan harga, BI juga mencatat pelemahan penjualan selama kuartal I tahun ini dari semula 40,07 persen, menjadi 26,62 persen. Menurunnya penjualan terjadi pada semua tipe rumah, terutama terjadi pada rumah tipe menengah. Penurunan penjualan terbesar dialami Palembang. Perkembangan ini sejalan dengan melambatnya pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR).

properti.kompas.com