Orang Hanoi Cuma Bisa Mimpi Beli Properti Ciputra

Big Banner

HANOI, KOMPAS.com – Kendati harga properti sempat jatuh pada kuartal pertama 2014, namun tak menyurutkan para investor dan orang-orang kaya Vietnam berburu rumah dan apartemen mewah.

Menariknya, ada satu megaproyek yang menjadi fenomena yakni Ciputra Hanoi International City. Megaproyek ini dianggap sebagai simbol prestise, kebanggaan, dan kesuksesan orang Vietnam, khususnya Hanoi.

Menurut pendamping perjalanan “Jotun Colorful Jouney 2015”, Tony, harga rumah dan apartemen di Ciputra Hanoi International City saat ini paling mahal. Pasalnya, kualifikasi bangunan dan fasilitas yang ada pun dinilai paling mewah.

“Pembelinya adalah orang-orang kaya Vietnam, dan orang-orang Hanoi yang sudah lama tinggal di luar negeri macam Eropa, dan Amerika Serikat. Mereka sekolah, dan berbisnis di sana. Pulang ke Vietnam membeli rumah dan apartemen di Ciputra Hanoi International City,” papar Tony, Senin (18/5/2015). 

Tony mengisahkan, orang-orang kaya tersebut membeli apartemen, dan rumah yang dikembangkan oleh Ciputra Group, untuk ditinggali sendiri atau untuk keluarga, dan anak-cucu mereka. 

Sebagian besar dari orang-orang kaya tersebut membeli properti yang dikembangkan oleh Ciputra Group, secara tunai. Jarang yang membeli dengan menggunakan fasilitas kredit pemilikan apartemen (KPA), atau kredit pemilikan rumah (KPR). 

Padahal, harganya luar biasa mahal untuk ukuran orang Hanoi yang memiliki pendapatan per kapita rerata 300 dollar AS. Tak tanggung-tanggung, harga unit apartemen terkecil sekitar 300.000 dollar AS atau setara Rp 3,9 miliar. Sementara harga rumah tapak (landed house) sekitar 2 juta dollar AS atau ekuivalen dengan Rp 26,3 miliar.

Dengan harga selangit itu, kata Tony, orang-orang Hanoi kelas menengah atau biasa-biasa saja hanya bisa bermimpi. Butuh pendapatan di atas 10.000 dollar AS per bulan untuk dapat membeli dan memiliki properti di Ciputra Hanoi International City.

“Karyawan swasta yang bekerja di perusahaan domestik saja pendapatannya sekitar 1.000 dollar AS sampai 1.500 dollar AS. Sedangkan yang bekerja di perusahaan multinasional sekitar 4.000 dollar AS. Kami ya cuma bisa bermimpi saja,” seloroh Tony.

Ciputra Hanoi International City dirancang seluas 301,8 hektar.Di dalamnya terdapat 11 tower apartemen berlantai 20 dan terdiri atas 150 unit. Sedangkan rumah tapak sekitar 1.000 unit.

Properti Ciputra ini juga dilengkapi dengan berbagai sarana dan fasilitas penunjang, antara lain sekolah, pusat belanja, ruko, dan lapangan golf.

Letak Ciputra Hanoi International City yang berada di pusat kota, dekat dengan Bandara Internasional Noibai dan CBD Hanoi membuat megaproyek ini laku keras. Sebab, semua unit properti, baik apartemen dan rumah yang telah berdiri telah terisi. “Tingkat huniannya tinggi. Penuh,” imbuh Tony.

Ledakan properti

Pasar properti Vietnam mengalami ledakan dalam tiga tahun terakhir. Penyebab ledakan ini antara lain suku bunga yang rendah, percepatan migrasi urban, dan fokus pemerintah pada peningkatan infrastruktur. 

Selain itu, ekonomi Vietnam mengalami pertumbuhan sebesar 5,8 persen tahun 2014. Menurut data Kementerian Konstruksi Vietnam, selama kuartal pertama tahun 2015 ini telah terjadi lebih dari 8.000 transaksi properti. Jumlah ini tiga kali lipat lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun 2014.

Pertumbuhan tersebut diprediksi bakal terus terdongkrak karena Pemerintah Vietnam baru-baru ini melonggarkan keran kepemilikan properti untuk warga negara asing.

Para ahli percaya, aturan baru ini akan membuka jalan bagi gelombang baru investasi asing. Orang asing akan diizinkan memiliki 30 persen dari semua tempat tinggal di bangunan apartemen dan 250 rumah independen dalam sebuah lingkungan berisikan ribuan properti dengan jangka sewa 50 tahun.

Relaksasi aturan ini mengacu pada hukum-hukum serupa yang diterapkan di beberapa negara Asia Tenggara. Sebagai contoh, Thailand membatasi kepemilikan properti kondominium bagi warga asing hingga 49 persen.

Para ahli mengatakan, Kota Ho Chi Minh dan Dan Nang diprediksi akan menerima lonjakan investasi asing sebagai dampak kebijakan ini. Hal ini disebabkan ketersediaan apartemen kelas atas, dan rumah-rumah mewah di kota tersebut masih cukup banyak.

“Hampir 80 ribu warga asing, tinggal di Vietnam. Tetapi hanya 800 dari mereka yang memiliki properti perumahan,” ujar Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Nguyên Minh Quang.

 

properti.kompas.com