Properti Lesu, Pendapatan Arsitek Stagnan

Big Banner

HANOI, KOMPAS.com – Melambatnya pertumbuhan sektor properti, tak hanya berdampak pada anjloknya penjualan, melainkan juga jasa konsultasi arsitektur. Hal ini ditandai dengan stagnasi pendapatan selama kuartal pertama, dan menjelang berakhirnya kuartal kedua 2015.

Managing Director PT Urbane Indonesia, Reza A Nurtjahja, mengungkapkan, penurunan memang sangat terasa. Oleh karena itu, pihaknya saat ini lebih selektif dalam menerima permintaan jasa konsultasi, baik untuk perencanaan, arsitektur, maupun desain.

“Kami fokus pada proyek-proyek dengan volume besar yang tidak butuh labour intensive melainkan penajaman karya dan skill,” ujar Reza kepada Kompas.com, di Hanoi, Selasa (19/5/2015).

Urbane, kata Reza, menargetkan pendapatan sebesar Rp 25 miliar untuk tahun ini. Target tersebut sama dengan pencapaian tahun sebelumnya yang mencapai Rp 25 miliar. Reza menyadari, pencapaian puncak yang ditandai pertumbuhan pendapatan tinggi sekitar 30 persen hingga 40 persen yang terjadi pada 2011 hingga 2013 belum akan terulang dalam waktu dekat.

Hal ini mempertimbangkan kondisi makro ekonomi yang sedang melemah serta sektor properti yang terus melambat. “Namun, kami tetap mengharapkan penurunan pendapatan ini tak akan terus berlangsung. Kami tetap optimistis hingga akhir tahun target dapat tercapai,” tandas Reza seraya menyebut salah satu proyek terbaru yang sedang mereka tangani adalah Sea View di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Penurunan pendapatan juga diakui Direktur Teknik PT Global Rancang Selaras, Victor Febrian Wicaksono. Menurutnya, pada tahun 2014 lalu, kantornya mampu mencetak pendapatan sekitar Rp 11 miliar. Tahun ini pihaknya harus lebih realistis, karena sampai kuartal kedua berakhir, pendapatan masih sepertiga dari target.

“Meski kami menargetkan pendapatan tumbuh 10 persen sampai 15 persen, tapi karena banyak proyek yang ditunda (on hold), angka yang sama dengan tahun lalu akan kami kejar,” ujar Victor.

Dia melanjutkan, untuk rancangan rumah sakit yang sangat spesifik, mewujudkan target pendapatan terbilang bukan perkara sulit. Pasalnya, perancang yang secara khusus mendedikasikan keahliannya untuk mendesain rumah sakit, tidak banyak.

“Kompetisi masih terhitung belum seketat perancang untuk proyek-proyek umum macam properti komersial perkantoran, hotel, apartemen, atau pusat belanja. Jadi, kami optimistis target Rp 11 miliar dapat tercapai,” pungkas Victor.

properti.kompas.com