Tol Kanci-Pejagan dan Cipularang Seharusnya Ditutup Saja!

Big Banner

CIKAMPEK, KOMPAS.com – Dua ruas jalan tol yakni Kanci-Pejagan, dan Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang) yang kondisinya rusak parah di beberapa bagian, seharusnya dihentikan operasinya, dan ditutup.

Pemerintah melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) jangan melakukan negosiasi-negosiasi yang tidak penting. Diperlukan ketegasan, dan bila perlu penalti dijatuhkan kepada pengelola dan pemegang konsesi kedua ruas jalan tol tersebut, masing-masing yakni PT Semesta Marga Raya, dan PT Jasamarga (Persero) Tbk.

Jalan yang berlubang, permukaan tidak rata alias bergelombang, dan gerak air liar yang tidak terkendali akibat kondisi tanah yang tidak stabil adalah penyebab utama rusaknya beberapa bagian jalan Tol Kanci-Pejagan dan Cipularang. Jika penanganannya tambal sulam alias asal-asalan, akan sangat membahayakan pengguna kendaraan yang melintasinya.

“Jadi seharusnya ditutup saja. Atau ditutup untuk bagian-bagian tertentu yang rusak parah. Dan kepada pemilik konsesi diberikan penalti. Tidak peduli mereka badan usaha milik negara (BUMN), swasta, atau kerjasama pemerintah-swasta (KPS),” tegas Ketua Program Studi Magister dan Doktor Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB), Harun Alrasyid Lubis kepada Kompas.com, Selasa (2/6/2015).

Kondisi aktual Jalan Tol Kanci-Pejagan memang tidak mulus dan bergelombang hampir di seluruh bagian, serta berlubang di bagian-bagian tertentu. Dalam kesempatan meninjau langsung kesiapan jalan Tol Cikampek-Palimanan, hal tersebut sangat terasa sehingga laju kendaraan tidak stabil.

HBA/Kompas.com Jalan bergelombang dari ruas Tol Kanci-Pejagan, Selasa (2/6/2015).

Bahkan, menurut Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Hediyanto W Husaini, kerusakan Jalan Tol Kanci-Pejagan sekitar 20 kilometer dari total ruas sepanjang 35 kilometer.

“Ya kerusakannya nyaris seluruhnya yakni sepanjang 20 kilometer,” ungkap Hediyanto.

Untuk mengatasi kerusakan tersebut, saat ini PT Semesta Marga Raya tengah melakukan sejumlah perbaikan dalam bentuk perkerasan beton, pelapisan aspal, hingga perbaikan struktur di bagian-bagian tertentu.

Kepala BPJT Achmad Gani Ghazali, mengatakan PT Semesta Marga Raya akan memaparkan progres perbaikan yang dilakukan di ruas tol tersebut. “Sesuai Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol, ruas tersebut dinyatakan default. Kita beri waktu 90 hari sambil melihat proses pengerjaannya,” ujar Gani.

Menurut dia, ada tiga opsi yang akan diberikan pemerintah terkait ruas tol tersebut. Opsi pertama, Tol Kanci-Pejagan akan tetap beroperasi tanpa tarif. Opsi kedua ditutup, dan opsi ketiga BPJT akan memanggil kontraktor yang ditunjuk untuk memperbaiki jalan dengan biaya yang ditanggung operator.

Setiap enam meter

Kondisi Tol Cipularang tak kalah parah. Menurut Harun yang terbiasa ulang-alik Bandung-Jakarta dan meneliti tol ini, kerusakan dan ketidakstabilan permukaan terdapat pada setiap kilometer jalan sepanjang 54 kilometer.

“Banyak bagian di ruas ini yang berlubang, dan bergelombang. Gelombang atau kondisi naik-turun sekitar 6 meter dari total satu kilometer. Ini sangat parah. Sayangnya, mengatasi masalah ini hanya dilakukan dengan cara tambal sulam,” kata Harun memaparkan statistik kerusakan Tol Cipularang.

Persoalan Tol Cipularang, kata dia, sudah sangat struktural. Pasalnya, Tol Cipularang dibangun di atas lahan yang tidak stabil. Sehingga berpotensi mengalami keretakan yang terus menerus. Selain itu, lapisan semennya di beberapa seksi sangat tipis, terdapat permukaan tanah yang berwarna kecoklat-coklatan.

“Kalau secara struktur saja sudah bermasalah, termasuk perkerasan beton, air yang tidak terkendali akan masuk dan mengalir secara liar. Terlebih jika drainasenya tidak baik. Kerusakan Tol Cipularang, 80 persennya karena faktor-faktor ini,” kata Harun.


properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me