Timur Tengah dan Afrika Utara Semakin Menggeliat

Big Banner

KOMPAS.com – Timur Tengah dan Afrika Utara sedang mengalami transformasi, termasuk pertumbuhan signifikan populasi muda dan tren migrasi urban yang sangat besar dengan kepindahan orang-orang ke kota utama.

Di atas lahan seluas 11,2 juta kilometer persegi, wilayah keduanya lebih besar dari AS yaitu 9,8 juta kilometer persegi, Tiongkok 9,5 juta kilometer persegi dan Uni Eropa 4,3 juta kilometer persegi. Antara 2006 dan 2013, produk domestik bruto (PDB) keduanya tumbuh 43 persen dibandingkan dengan 20 persen di AS dan 15 persen di Uni Eropa.

Selama periode yang sama, populasi tumbuh sebesar 10 persen. Bandingkan dengan pertumbuhan penduduk di AS sebesar 7 persen dan di Uni Eropa serta Tiongkok 4 persen. Populasi ini diharapkan meningkat dua kali lipat dalam 30 tahun ke depan.

PDB di Timur Tengah menyumbang 4 persen dari PDB global dan diperkirakan akan tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 4 persen. Perubahan politik juga diharapkan bisa menciptakan pertumbuhan ekonomi, dengan tersedianya kesempatan investasi yang cukup bagi orang muda dan memastikan lowongan kerja.

Populasi di negara tersebut semakin meningkat, dengan 31 persen tinggal di kota besar. Jumlah ini hampir pasti akan terus meningkat, karena penduduk pedesaan pindah ke daerah perkotaan dan kota-kota baru bermunculan. Dinamika politik dalam perubahan wilayah, dipengaruhi oleh pergeseran sosial-ekonomi dan ketegangan global. Tidak dapat dihindari bahwa pusat-pusat ekonomi juga akan berubah.

Sebuah laporan terbaru dari Forum Ekonomi Dunia menyoroti bahwa kota adalah sumber dari ekonomi global. Daya saing mereka semakin menentukan kekayaan dan kemiskinan bangsa, kawasan, dan dunia. Sebuah peta alternatif ekonomi global yang muncul adalah kota harus terhubung di perbatasan darat, laut dan samudra melalui pertukaran barang dan jasa.

Selain itu, kota juga harus menyediakan sarana investasi asing secara langsung, tempat bagi migran dan pekerja jangka pendek, serta memiliki basis teknologi. Tidak terkecuali Timur Tengah. Di antara 30 kota terbesar, sangat mungkin untuk mengidentifikasi kota-kota mana yang membentuk hub kunci dalam jaringan interkoneksi perdagangan dan hubungan di wilayah tersebut, serta memainkan peran utama dalam pengembangan perekonomian daerah.

Terdapat tiga jenis kota yang membawa daya saing regional dan global ke tingkat sub-nasional, yaitu kota internasional, kota hub dan mega kota. Kota ini dibedakan melalui lembaga, kebijakan dan regulasi bisnis, konektivitas keras (infrastruktur) dan konektivitas lunak (budaya, masyarakat, penggunaan teknologi canggih).

Kota internasional Dubai adalah contoh yang jelas dari kota internasional yang telah mengembangkan sistem pemerintahan canggih. Dubai memiliki potensi untuk menarik perusahaan multinasional ke dalam wilayah tersebut. Titik perubahan dalam pengembangan Dubai sebagai kota global secara signifikan mulai terjadi dalam dekade pertama abad ke-21.

Lembaga di Dubai dapat dikelompokkan dalam empat kategori besar yang memberikan keunggulan kompetitif: pemerintahan, hukum, perdagangan dan keuangan. Di bagian atas lembaga-lembaga ini adalah dewan eksekutif, dengan visi dan pelaksanaan manajemen yang memungkinkan kota untuk berkembang dalam waktu singkat.

Menurut webforum.org, kota di Uni Emirat Arab (UEA) berhasil berkembang berkat bisnis global untuk insentif ekonomi yang kuat. Insentif ini didukung oleh sistem peraturan dan hukum yang dikembangkan dalam mendorong perusahaan global dan lokal untuk melakukan bisnis dalam yuridiksinya.

Dubai tunduk pada hukum Federal UEA tetapi tetap memiliki kemerdekaan dan hak-hak di daerah tertentu. Dalam hal konektivitas keras dan lunak, kota ini berkembang dengan baik, dengan komunikasi dan transportasi jaringan canggih. Hal tersebut juga bisa melestarikan budaya tradisional dan mengakomodasi beragam kebangsaan yang nyaman bagi penduduknya.

Kota seperti Amman dan Beirut bertindak sebagai hub dan pintu gerbang ekonomi tetangganya yang lebih besar. Peraturan bisnis mereka memfasilitasi perdagangan, dibantu oleh posisi geografis yang menguntungkan karena menghubungkan Teluk dengan Eropa. Pemerintah dan lembaga yang mapan di kota-kota tersebut telah berfungsi untuk waktu yang sangat lama.

Konektivitas keras juga maju, dengan adanya infrastruktur modern dan budaya yang beragam dan terbuka. Infrastruktur ini memfasilitasi pertukaran dan perdagangan dari Mediterania Timur ke wilayah Teluk. Amman berperan sebagai oasis ekonomi Irak, dan pintu gerbang untuk Arab Saudi dari utara. Amman juga terhubung dengan Beirut melalui Suriah.

Selain peran mereka dalam perdagangan dan logistik, baik Amman dan Beirut adalah inkubator teknologi baru dan konsep, serta hub bagi pengusaha, sehingga lebih mudah untuk menarik modal. Kota-kota besar memiliki populasi besar dan pengaruh yang signifikan pada perkembangan di wilayah tersebut. Mereka adalah Kairo, Istanbul, Riyadh, Baghdad dan Teheran.

Tingkat perkembangan peraturan bervariasi pada kota-kota ini, namun skala mereka meningkatkan pengaruh di wilayah tersebut. Beberapa di antarnya memiliki keunggulan kompetitif pada infrastruktur mereka, sementara yang lainnya unggul pada budaya. Kota-kota ini memiliki populasi besar, jumlahnya 14 persen dari populasi Timur Tengah.

Kota besar berperan sebagai pengontrol ekonomi utama regional. Meskipun telah terpengaruh oleh perang, Baghdad dan Teheran masih tetap menarik untuk komunitas bisnis karena memiliki populasi besar dan lembaga yang mapan. Namun, peraturan, pemerintahan dan konektivitas mereka masih terbelakang.

Sementara Riyadh berkembang dengan cepat, dengan pusat bisnis yang bermunculan dan banyaknya proyek infrastruktur besar diluncurkan. Pemerintah bertekad mendorong prioritas kebijakan dan reformasi untuk memungkinkan kota bisa mengakomodasi pertumbuhan di atas 6 juta jiwa.

Kairo diatur untuk mengembangkan perubahan politik yang signifikan di Mesir. Kairo juga menerima investasi besar dari Negeri Teluk, khususnya Arab Saudi. Modernisasi kota akan lebih memungkinkan konektivitas lunak yang ada untuk berkembang, dengan menciptakan pusat inovasi besar untuk daerah dan masyarakat perdagangan yang signifikan, yang menghubungkan Teluk dengan laut Mediterania.

Diperlukan kemampuan untuk mengembangkan dan mengubah tata kelola dan peraturan. Reformasi tersebut harus bertujuan menyederhanakan aktivitas bisnis, melindungi investor, serta menempatkan bisnis di bawah lembaga yang kuat untuk menegakkan peraturan.

Hal ini juga penting bagi kota-kota lainnya untuk mempertahankan dan mengembangkan konektivitas keras mereka dengan investasi besar, seperti Riyadh. Tak pelak, kota-kota lain juga mengikuti resep ini antara lain Basra, Medina, Alexandria, dan Bursa.

Kota-kota ini berperan sebagai agen stabilisasi di kawasan dengan menyediakan wilayah yang aman untuk perdagangan, inovasi dan pengembangan, serta mampu menarik pemain regional dan multinasional. 

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me