MEA Datang, Harga Properti di Batam Bakal “Meledak”

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Ada beberapa faktor yang membuat Batam menjadi incaran investor dari negara-negara tetangga ASEAN. Pertama, kedekatan secara geografis antara Batam dan Singapura. Dengan begitu, Batam bisa menjadi alternatif yang baik sebagai basis industri Singapura untuk mengembangkan industrinya.

“Karena kurangnya lahan industri di Singapura. Bahkan, untuk kawasan Asia Pasifik, Batam juga menjadi basis industri bagi Malaysia, Thailand, Korea, Jepang, bahkan Eropa,” ujar Tedi Guswana, Marketing Manager Orchad Park Batam, Minggu (7/6/2015).

Kedua, Batam merupakan zona free trade Indonesia atau Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Dengan demikian, untuk  kegiatan ekspor dan impor tertentu di Batam tidak dikenakan pajak bea masuk.

“Ini jelas memudahkan banyak pengusaha dan pedagang Singapura yang berekspansi untuk berbisnis ataupun menanamkan modalnya ke Batam,” katanya.

Ketiga, potensi alam Batam juga mulai diincar wisatawan dalam dan luar negeri. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, Batam ditetapkan menjadi “Great Batam” bersama-sama dengan “Great Jakarta” dan “Great Bali” untuk menggenjot kunjungan wisman ke Indonesia.

Tahun lalu wilayah Great Bali, Great Jakarta dan Great Batam menjadi tiga kawasan tujuan utama pariwisata dengan menyumbang sekitar 90 persen jumlah kedatangan wisman ke Indonesia. Menurut survei kunjungan para pendatang termasuk WNA, mereka yang berkunjung ke Batam bukanlah kunjungan seasonal.

“Ya, seperti mereka pergi liburan ke Bali saja, misalnya. Mereka ke Batam itu rutin dan berkala. Untuk itu, di proyek ini kami siapkan 1.200 unit hunian,” ujar Tedi.

Tedi mengatakan, 1.200 unit hunian tersebut ada dalam proyek Orchard Park Batam. Dia mengakui, untuk menangkap potensi kunjungan wisman itu Agung Podomoro memang membidik Orchard Park Batam ke arah lokasi strategis.

“Karena jaraknya cuma lima menit ke Batam Center Harbour dan Mega Mall Batam, proyek tersebut juga tak jauh dari Bandara Internasional Hang Nadim, dan dikelilingi kantor-kantor pemerintahan, universitas dan sekolah-sekolah internasional,” ujarnya.

Tedi mengatakan, Orchard Park Batam adalah sebuah kawasan mixed used seluas 42 hektar. Proyek yang terdiri dari 1200 hunian landed, sekitar 140 unit Orchard Walk atau shop house, Orchard Arcadia atau mal dan kuliner, serta 100 unit apartemen.

Dengan desain modern tropis yang dianggap cocok untuk iklim Batam, lanjut Tedi, 1.200 unit hunian tersebut tersebar di enam klaster Orchard Park Batam. Keenam klaster itu meliputi Cluster Vitis, Cluster Carica, Cluster Citrus, Cluster Persea, Cluster Durio, dan satu klaster yangs sedang dalam pembangunan.

“Untuk harga hunian tentu lebih terjangkau dibandingkan harga landed house di Jakarta. Bahkan, kalau dibandingkan kawasan elit Tanjung Duren, Kelapa Gading, Kemang, atau PIK bisa mencapai tiga kali lipatnya. Kenapa lebih murah, karena Batam adalah kawasan Free Trade Zone sehingga tak ada PPN dan PPNBM,” ujarnya.

Sunrise property

Selama periode 2010-2013, laju pertumbuhan penduduk Provinsi Kepulauan Riau mencapai 5,29 persen per tahun. Kota Batam sendiri mempunyai laju pertumbuhan paling besar, yaitu 7,67 per tahun.

Berdasarkan data Bappeda Provinsi Kepulauan Riau, pertumbuhan penduduk Batam yang sangat tinggi itu disebabkan oleh migrasi penduduk yang masuk dari luar provinsi Kepri sebesar 182.708 jiwa atau 19,35 persen dari total penduduk Batam sendiri. Mereka datang untuk bekerja, mencari pekerjaan, dan melakukan kegiatan usaha atau kegiatan ekonomi lainnya.

“Salah satu indikasi sebuah daerah tergolong sunrise property adalah tingkat kepadatan penduduk dan Batam punya potensi itu, sangat tinggi,” ujar Tedi.

Tedi menambahkan, dengan datangnya era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada Desember 2015 nanti, Batam akan menjadi pintu gerbang Indonesia. MEA akan menjadi pasar global ASEAN yang akan sangat menguntungkan Batam.

“Karena Batam berbatasan langsung dengan Negara tetangga ASEAN. Dengan Singapura misalnya, hanya berjarak 20 kilometer. Tidak terbayang bagaimana kenaikan harga tanah atau capital gain, juga investment yield atau penghasilan sewa, akan meledak seiring datangnya pekerja Singapura dan Malaysia di sini (Batam),” kata Tedi.

Saat ini saja, tercatat pekerja asing di Batam mencapai 6.000 orang. Jika menyentuh angka 10.000-20.000 pekerja asing itu bekerja di kota ini, mereka akan menyerbu kawasan-kawasan dan strategis yang dikembangkan oleh developer.

properti.kompas.com