“Tidak Ada Kota Cerdas kalau Tidak Ada Listrik”

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Untuk menjadikan kota-kota di Indonesia menjadi kota cerdas, terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Country President Schneider Electric Indonesia Riyanto Mashan mengatakan sebelum mengubah kota-kota menjadi cerdas, ada beberapa hal yang perlu dibenahi, antara lain soal kelangkaan listrik dan infrastruktur yang tidak memadai.

“Tantangan pertama adalah kelangkaan energi. Selain itu, electrical ratio belum menjangkau semua wilayah. Baru 84 persen,” ujar Riyanto saat acara New Cities Summit Jakarta 2915, di Hotel Raffles, Jakarta, Selasa (9/6/2015).

Ia menjelaskan, jangkauan listrik belum memenuhi kebutuhan pulau-pulau terluar. Bahkan, di sekitar Yogyakarta saja, ada daerah yang belum teraliri listrik. Hal tersebut adalah tantangan pemerintah sebagai penguasa tunggal untuk memberikan akses energi kepada masyarakat.

Untuk memenuhinya, pendanaan listrik memerlukan setidaknya 84 miliar dollar AS atau Rp 1,2 triliun. Pemerintah telah merencanakan untuk membangun 35.000 megawatt pembangkit baru, termasuk juga transmisi dan distribusinya.

Kemampuan pemerintah sendiri, kata Riyanto, hanya mampu sepertiganya. Sementara sisanya harus didanai bank ataupun investor luar. Tantangan ini, juga terlihat dari kesanggupan pemerintah sebelumnya, yang tiap tahun hanya mampu membangun 5.000 megawatt.

“Bukan sesuatu yang bisa dicapai 5 tahun. Saya kira itu ambisi, tapi masih banyak yang perlu dilakukan untuk mencapai (target 35.000 megawatt) 5 tahun. Tidak ada smart city kalau tidak ada listrik,” jelas Riyanto.

Selain listrik, lanjut dia, infrastruktur jalan di Indonesia dinilai masih kurang. Hal tersebut tercermin dari ongkos logistik Indonesia yang merupakan salah satu tertinggi di Asia. Riyanto menjelaskan, ongkos barang dari pabrikan sampai menjangkau konsumen mencapai 15-20 persen dari total biaya.

Dengan demikian, kata Riyanto, pemerintah perlu memperhatikan dan membangun sarana transportasi, baik untuk barang maupun manusia. Mengingat betapa masifnya kebutuhan infrastruktur di Indonesia.

Tidak hanya itu, Indonesia juga masih bermasalah soal ketahanan pangan. Menurut Riyanto, saat ini penduduk berjumlah 250 juta jiwa. Diperkirakan, dalam 10 tahun lagi, jumlah penduduk bisa mencapai 400 juta jiwa.

“Kita harus memikirkan bagaimana anak cucu kita mendapatkan akses ke sumber pangan yang cukup. Kita segalanya masih suka impor ini, impor itu. Secara keseluruhan, ketahanan pangan belum optimal,” tutur Riyanto.

Ia menilai, konsep pemerintah saat ini sudah benar karena berupaya menyediakan sarana irigasi. Sarana ini bisa untuk mengairi sawah dan mendukung ketahanan pangan supaya lebih baik lagi.

Riyanto menyimpulkan, tantangan-tantangan tersebut merupakan satu kesatuan rantai yang harus dibangun secara bersama-sama. Jika tidak begitu, Indonesia tidak bisa menciptakan kota cerdas yang efisien dalam konsumsi energi.

properti.kompas.com