Di Batam, Dua Pengembang Stop Berproduksi

Big Banner

BATAM, KOMPAS.com – Rupiah yang terjerembab hingga sempat menyentuh level Rp 13.400 per 1 dollar AS, dan pertumbuhan ekonomi yang melambat, membuat bisnis dan industri properti di Batam, Kepulauan Riau, oleng. Penjualan anjlok sebesar 30 persen.

Penurunan penjualan, sejatinya sudah terjadi sejak kuartal pertama 2015, dan terus berlanjut hingga kuartal kedua. Saat kuartal pertama, penjualan merosot sekitar 10 persen hingga 15 persen. Memasuki kuartal ketiga dan seterusnya, masa depan properti Batam pun diprediksi bakal lebih dramatis.

Saat ini saja, sudah jatuh korban yakni dua perusahaan pengembang yang memutuskan berhenti berproduksi. Penjualan mereka melorot drastis akibat rumah-rumah yang masih dalam masa pemasaran, atau yang sudah kadung dibangun, tak terserap pasar.

Ketua DPD REI Batam, Djaja Roeslim, mengungkapkan hal tersebut kepada Kompas.com, Kamis (11/6/2015).

“Kondisi ekonomi aktual dan terpuruknya Rupiah sangat memukul bisnis, dan industri properti di Batam. Sudah dua perusahaan pengembang yang memilih stop membangun karena anjloknya penjualan,” tutur Djaja tanpa bersedia menyebut nama kedua perusahaan tersebut.

Djaja menambahkan, akibat penjualan rumah-rumah tak laku, banyak pengembang yang kemudian tak sanggup membayar kontraktor dan pemasok material bangunan. Sebagian lainnya memilih opsi menunda pembayaran.

Banyaknya pengembang yang tidak sanggup membayar kontraktor dan pemasok, menurut Djaja, karena seluruh komponen material utama macam readymix, besi, penutup atap, baja, kabel, dan aluminium itu dibeli dengan mata uang dollar Singapura.

“Setiap nilai tukar Rupiah turun 10 persen, harga material bangunan akan melonjak 3 persen. Jadi saat Rupiah terjengkang 30 persen, harga material bangunan pun naik sekitar 9-10 persen,” tandas Djaja.

Industri

Menurunnya permintaan properti hunian ini, kata Djaja, karena industri sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD) Batam pun dilanda penurunan. Di antaranya industri elektronik, minyak dan gas, otomotif, consummer goods, dan lain-lain. Hal ini secara langsung berdampak pada daya beli yang tergerus signifikan.

“Semua kelas pengembang terkena dampaknya. Namun yang paling parah adalah pengeembang gurem, kelas menengah, dan kelas menengah atas. Kalau pengembang mewah tidak terlalu sensitif terhadap kondisi saat ini,” tandas Djaja.

Karena itu, dia berharap pemerintah segera melakukan intervensi agar Rupiah tetap stabil, dan ekonomi digenjot hingga batas psikologis sehingga pengembang yang gulung tikar dapat kembali membuka usahanya lagi.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me