Catat, Bisnis yang Cocok Dikembangkan di Sepanjang Tol Cikopo-Palimanan!

Big Banner

BANDUNG, KOMPAS.com – Jalan Tol Cikopo-Palimanan yang diprediksi mampu mengurangi beban kemacetan jalur pantai utara (pantura) Jawa sebanyak 40 persen hingga 60 persen merupakan potensi yang layak digarap.

Menurut Head of Research Savills PCI, Anton Sitorus, ada banyak bisnis yang bisa dikembangakan berbasis potensi mobilitas kendaraan, dan manusia dengan intensitas tinggi yang melintasi jalur ini.

“Karena itu, bisnis yang punya prospek bagus di sekitar Tol Cikopo-Palimanan adalah perumahan, ritel, rest area-rest area atau tempat istirahat (TI), dan fasilitas akomodasi (perhotelan),” ujar Anton kepada Kompas.com, Sabtu (13/6/2015).

Dia melanjutkan, permintaan akan hunian, ritel, dan hotel akan meningkat, terutama saat mudik, libur hari raya, dan akhir pekan. Perumahan dibutuhkan karena di sekitar jalan tol sepanjang 116,75 kilometer tersebut terdapat kawasan-kawasan industri di Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Cirebon, dengan jumlah pekerja ribuan orang.

“Perumahan eksisting masih sedikit jumlahnya. Terlebih perumahan dengan fasilitas yang lengkap, seperti ruang komersial, dan fasilitas penunjang masih terbatas,” imbuh Anton.

Sementara bisnis ritel, lanjut Anton, adalah yang menyediakan kebutuhan food and beverage (makan dan minum) dan dikemas dalam konsep TI-TI seperti yang sudah ada di jalur Jakarta-Cikampek.

Ada pun perhotelan adalah kelas budget atau ekonomi dengan desain yang kompak, dan harga terjangkau. Hotel ekonomi ini pun harus dirancang dengan nyaman, karena para pengguna jalan tol ini pasti menginginkan beristirahat tanpa gangguan.

Praktisi pengembangan kawasan, Hiramsyah Sambhudy Thaib, menambahkan, infrastruktur macam Tol Cikopo-Palimanan memang sangat dibutuhkan guna menggenjot bisnis dan industri properti.

“Bisnis dan industri properti akan mengikuti perkembangan infrastruktur. Di mana infrastruktur dibangun, di situ akan berkembang bisnis dan industri properti,” kata Hiramsyah.

Properti dengan konsep kawasan yang mengintegrasikan semua fungsi yang dibutuhkan mulai dari perumahan, komersial, fasilitas pendidikan, fasilitas olahraga, fasilitas kesehatan, dan fasilitas penunjang lainnya punya kans atau peluang lebih besar untuk tumbuh positif.

Hiramsyah menekankan, Tol Cikopo-Palimanan dan terus meenyambung ke arah timur sebetulnya semakin membuat Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Cirebon serta kota-kota kecil lainnya macam Tegal, Brebes, dan Pekalongan akan semakin terbuka.

“Ditambah lagi jika pembangunan Bandar Udara Kertajati direalisasikan, dan Pelabuhan Cirebon diperluas dan ditingkatkan kapasitasnya, dekonsntrasi kegiatan industri dan bisnis di barat akan segera terjadi. Koridor timur Jakarta akan lebih pesat perkembangannya,” tandas Hiramsyah.

Kelas menengah bawah

Ada pun kelas bisnis yang tepat untuk disasar, kata Anton, adalah segmen menengah bawah. Pasalnya, Tol Cikopo-Palimanan hanya merupakan jalur perlintasan, bukan tujuan utama. Sementara kalangan atas, dan juga pebisnis justru hanya transit.

“Karena itu, properti yang hendak dibangun pun harus sesuai dengan kebutuhan kelas masyarakat tersebut. Bukan rumah mewah, atau ritel macam Plaza Indonesia, dan hotel bintang lima,” imbuh Anton.

Kota-kota dan kabupaten di koridor timur Jakarta ini, lanjut Anton, belum bisa menandingi level dan magnet Serpong dengan motornya BSD City, atau Maja dengan Citra Maja Raya yang kena imbas popularitas Serpong. Selain dekat dengan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta juga tak jauh aksesnya dari Pelabuhan Internasional Bojonegara yang sudah ditetapkan sebagai penyangga Pelabuhan Internasional Tanjung Priok.

“Kota-kota dan kabupaten di koridor timur Jakarta atau pantura Jawa ini masih dikembangkan secara terpisah. Karena itu, harus memiliki stimulus yang menarik. Pembangunan Bandara Internasional Kertajati adalah salah satu pemicu yang harus segera diwujudkan,” sebut Anton.

properti.kompas.com