Bandung dan Singapura dalam Perspektif Ridwan Kamil

Big Banner

BANDUNG, KOMPAS.com – “Saya adalah bukti nyata manfaat pertukaran internasional seperti Singapore International Foundation (SIF)-ASEAN fellowship, dan saya melihatnya sebagai investasi jangka panjang yang menguntungkan hubungan lintas-budaya lewat pemberdayaan generasi muda pemimpin masa depan”.

Demikian Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil berbagi pengalaman dalam sesi Insight from The Inside, Dialog SIF Connects! Bandung yang diprakarsai Singapore International Foundation, pada Sabtu (13/6/2015).

Manajer kota yang akrab disapa Emil, ini ternyata telah menjalin hubungan erat dengan Singapura sejak lebih dari 20 tahun silam. Pada 1994, penyandang gelar master dalam Urban Design dari Universitas California, Berkeley, terpilih mendapatkan beasiswa pelajar dari SIF-ASEAN untuk belajar di National University of Singapore (NUS).

Pembelajaran Emil di NUS tak hanya dari kegiatan akademis tentang kebijakan-kebijakan, dan strategi serta cara hidup di Singapura, juga belajar tentang desain perkotaan yang sistematis, terorganisasi dengan baik serta penggunaan teknologi inovatif.

Emil kemudian tercatat sebagai arsitek Indonesia yang terlibat dalam proyek-proyek pembangunan perkotaan di Singapura. Yang terbesar adalah master plan Marina Bay Waterfront, dan pembangunan JTC Corporation’s Biopolis di Punggol.

Pembelajaran di Negeri Singa itu kemudian ikut berkontribusi dalam mematangkan pengalaman profesional, karir politik, dan memperluas perspektifnya dalam menata dan mengelola kota Bandung dengan kompleksitas masalah yang multidimensional.

Singapura dengan taman dan jalur pedestrian yang dirancang baik serta perkembangan arsitekturnya yang inovatif seperti Esplanade dan Gardens By The Bay, memberikan Emil sebuah referensi komprehensif untuk membangun kota modern dan layak huni.

“Itu adalah misi saya sebagai Wali Kota Bandung sekarang,” cetus Emil.

Emil mengakui, menjadikan Bandung sebagai kota modern dan layak huni memang tidak mudah. Namun, sebagai kota terbesar ketiga dengan 60 persen populasinya berumur di bawah 40 tahun alias usia produktif, menjadikan Bandung sangat potensial menjalani transformasi untuk lebih progresif.

Karena itulah, dia kemudian rajin melakukan kampanye menanamkan pola pikir progresif dengan serangkaian inisiatif bersifat meningkatkan kualitas hidup warganya. Inisiatif-inisiatif tersebut antara lain “Hari Bus Gratis” untuk tujuan mempromosikan penggunaan transportasi umum dan mengurangi kendaraan pribadi.

kompasiana Ilustrasi. Bandung kembali berbunga.

Ada juga inisiatif “Hari bebas Rokok”, yang mendorong masyarakat agar tidak merokok satu hari dalam seminggu,  “Rebo Nyunda” untuk mendorong penggunaan bahasa lokal dan merayakan budaya serta adat istiadat Sunda, “English Day” untuk mendorong penggunaan bahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari, serta “Bike to Work Day”, dan “Hari Festival Kuliner”.

“Saya harus mengakui, inovasi yang saya bawa ke Bandung, salah satunya terinspirasi dari pengalaman selama di Singapura. Terutama di bidang pemerintahan, pembangunan perkotaan, dan pemanfaatan teknologi,” imbuh Emil.

Dan relasi mutualisme Emil dengan Singapura pun terus berlanjut berupa komitmen investasi di bidang teknologi informasi serta jasa dalam skema business to business.

“Komitmen investasi sudah kami bicarakan antar-pemerintah. Tinggal ditindaklanjuti antara para pebisnis baik dari Singapura, maupun Bandung. Kami sendiri menargetkan realisasi investasi asing ke Bandung, termasuk dari Singapura, hingga akhir 2015 senilai Rp 1,5 triliun,” ucap Emil.

“Scale and size”

Kendati diakui para pengamat bahwa apa yang dilakukan Emil sudah menampakkan hasil, namun masih jauh dari ekspektasi. Kemacetan tak kunjung terurai, tidak hanya pada akhir pekan, melainkan juga hari kerja. Demikian halnya masalah kebersihan, pasokan air bersih, sanitasi, pendidikan, dan sebagainya.

HBA/Kompas.com Kondisi lalu lintas di jalur menuju Pintu Tol Pasteur, Bandung, Sabtu (13/6/2015).

Menurut Ketua Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Bernardus Djonoputro, Emil perlu meneruskan usahanya dalam mengurai satu persatu pekerjaan berat multidimensi Kota Bandung.

“Saya sadari tidaklah mudah. Harapan pertama, Emil perlu berpedoman pada scale dan size, membangun kota skala manusia,” tandas Bernardus.

Kota Bandung, lanjut dia, harus dikembalikan ke desain dengan skala manusia. Kelebihan tradisi dan modernisasi harus menjadi fokus dalam mengelola secara terintegrasi jaringan jalan, jaringan air bersih, listrik, microcels, dan air kotor. Sehingga kehidupan masyarakat terjaga, namun Bandung tetap vibrant  dan eksis sebagai kota abad ini dan masa depan.

Karena itu, dalam penataan kota terkait penggunaan jalan misalnya, penambahan jalan bukan solusi, namun harus dilakukan dengan optimalisasi jalan atau right of way (ROW) yang dipentingkan. Pembagian jalur dengan dimensi paling optimal, dan pedestrian selevel hanya beda bahan saja bisa dilakukan seperti di kota-kota kecil Jepang atau Italia.

“Dengan begitu, masih ada ruang untuk jalur sepeda, pejalan kaki, dan kendaraan roda empat,” imbuh Bernardus.

Bagaimana caranya agar semua pengguna jalan bisa beriring bersama tanpa saling mengganggu? Dalam hal ini, Emil diharuskan mendeklarasikan kecepatan rata-rata di jalan-jalan kota demi mengelola ekspektasi warga.

Harapan kedua, dalam penyusunan dan pengendalian rencana kota, keberadaan Komisi Perencanaan sebagai penasihat, perlu diperkuat dengan pengembangan dan pembinaan community of practice perencanaan. Pelibatan dan pembinaan terhadap profesi yang mengawal rencana dan desain kota harus menjadi kekuatan Emil sebagai pengelola kota.

Kota yang vibrant, kata Bernardus, sulit dicapai tanpa community of practice yang kuat dan visi kota untuk warga, dan kota dunia.

Harapan ketiga, mau tidak mau, suka tidak suka, regenerasi urban merupakan satu-satunya cara untuk mengatasi berbagai bagian kota Bandung yang tergentrifikasi.

“Nah, Emil harus berinovasi supaya mampu membeli dan menambah land bank. Ini menjadi penting dan krusial untuk meningkatkan kemampuan pemerintah kota Bandung dalam mengendalikan kota agar dapat tumbuh by design, bukan by chance,” pungkas Bernardus.

properti.kompas.com