Pengamat Menilai Rapor Pemerintah di Sektor Perumahan Masih Merah

JAKARTA, KOMPAS.com -Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat (PUPR) merilis kinerja yang diklaim telah mencapai target pembangunan sepanjang tahun 2016.Hal ini ditandai peresmian beberapa proyek ...

  • propertidata
  • 2017.01.06
  • 1475

    view

  • Pengamat Menilai Rapor Pemerintah di Sektor Perumahan Masih Merah

    JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat (PUPR) merilis kinerja yang diklaim telah mencapai target pembangunan sepanjang tahun 2016.

    Hal ini ditandai peresmian beberapa proyek infrastruktur dan penandatanganan kontrak pelaksanaan pekerjaan pembangunan infrastruktur.

    Baca: Ini Kinerja Kementerian PUPR sepanjang 2016

    Sebut saja infrastruktur ketahanan air dan pangan, konektivitas yang berupa jalan, jalan tol, dan jembatan, serta perumahan dan permukiman.

    Kendati pembangunan berlangsung demikian masif, namun khusus sektor perumahan dan permukiman, rapor kementerian yang dipimpin Basuki Hadimuljono ini masih dinilai merah.

    Dosen Kelompok Keahlian Perumahan Permukiman Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SKPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Jehansyah Siregar menilai realisasi rumah yang diklaim mencapai 805.169 unit bukanlah angka riil.

    "Itu 80 persen dari total target 1 juta unit lho. Saya hitung rumah terbangun baru sekitar 30 persen," kata Jehansyah kepada Kompas.com, Kamis (5/1/2017). 

    Dia menjelaskan alasan memberikan nilai merah, karena angka Satu Juta Rumah yang disusun Kementerian PUPR tidak tepat. 

    Kementerian PUPR, dalam hal ini Direktorat Jenderal (Ditjen) Penyediaan Perumahan memasukkan sub-program bedah rumah, dan rumah swadaya ke dalam penyusunan backlog  rumah yang harus dipenuhi.

    Hal itu, kata Jehansyah tidak fair. Pasalnya, sub-program bedah rumah, dan perumahan swadaya dilakukan di lokasi-lokasi yang sebetulnya tidak dalam kondisi darurat untuk dibangun perumahan.

    "Masak masyarakat di ujung pulau terluar dipaksa bangun rumah 'Aladin', atap, lantai, dinding harus serupa dengan di Pulau Jawa. Mereka dipaksa mengubah rumah asli dari sirap, dan rumbia menjadi tembok, dan beton," ungkap jehansyah. 

    Tentu saja, tambah dia, apa yang dilakukan pemerintah ini justru tidak menyelesaikan masalah. Sebaliknya, potensial menimbulkan masalah baru. 

    Menurut Jehansyah, tantangan perumahan itu sejatinya ada di perkotaan. Seharusnya, pemerintah membentuk badan yang khusus menangani housing and urban development.

    "Rumah-rumah di perkotaan memang kelihatan bagus. Tapi mereka insecure karena sewaktu-waktu bisa digusur. Ini yang harusnya jadi prioritas pemerintah. Mengentaskan rumah kumuh, dan merumahkan mereka yang rentan digusur," cetus dia.

    Jehansyah mengungkapkan, selain bedah rumah dan rumah swadaya yang bermasalah, sub-program susun sewa (rusunawa) juga dinilai tidak terencana.

    Yang lebih parah, imbuh dia, adalah penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang salah sasaran.  

    "Harusnya pemerintah fokus di kantong-kantong kumuh perkotaan. Minimal selesaikan dulu masalah di Jadebotabek," tegas Jehansyah.

    Sebelumnya diberitakan, berdasarkan data Ditjen Penyediaan Perumahan, rincian capaian Program Nasional Pembangunan Satu Juta Rumah adalah rumah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) sebanyak angka 569.382 unit. sedangkan rumah non-MBR terbangun 235.787 unit.

    Menteri PUPR Basuki Hadimuljono optimistis tahun ini target Satu Juta Rumah dapat terwujud.

    “Jika tahun 2015 lalu capaiannya sekitar 700.000 unit dan 2016 ini mencapai lebih dari 800.000 unit atau 805.169 unit rumah, tahun 2017 ini kami lebih optimistis. Apalagi kebutuhan rumah bagi masyarakat di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya," ungkap Basuki.

     

    properti.kompas.com

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci