Menjadi Arsitek Bukanlah Halangan Bagi Perempuan

Big Banner

KOMPAS.com – Organisasi arsitek profesional berbasis di Inggris, Royal Institute of British Architects (RIBA) telah melewati proses pemilihan pimpinan atau presiden baru. Dalam pemilihan tersebut, Jane Duncan, memenangkan posisi ini.

Dia akan menjadi perempuan ketiga yang akan memimpin organisasi, setelah berdiri selama 75 tahun. Dua perempuan sebelumnya adalah Giles Gilbert Scott dan Basil Spence.

Seperti dikutip dari pernyataannya di Telegraph, Duncan bercerita bahwa ia sempat tidak diizinkan menjadi arsitek oleh ayahnya, lantaran ia adalah seorang perempuan.

“Saya berusia tiga belas tahun ketika saya sadar ingin menjadi seorang arsitek. Keinginan ini cukup mendadak. Saat tamasya seni pada hari musim panas, saya melihat teman-teman perempuan saya lainnya menggambar bunga, sementara saya sibuk membuat sketsa bangunan bata merah kusam di sekitar saya,” ujar Duncan.

Kemudian, Duncan berpikir, ambisinya ini seharusnya bukanlah hal yang datang tiba-tiba. Ayahnya adalah seorang arsitek. Namun, ayahnya tidak pernah berbicara tentang pekerjaannya.

Ketika menginjak 16 tahun, Duncan mengutarakan niatnya untuk mengikuti jejak sang ayah. Tetapi jawabannya singkat tanpa kompromi.

“‘Ini bukan profesi untuk anak perempuan’. Dia tidak pernah menjelaskan mengapa,” tutur Duncan menirukan kata-kata ayahnya.

Dalam dunia konstruksi tahun 1950-an dan 1960-an, ayah Duncan belum pernah melihat seorang wanita yang bekerja selain sebagai sekretaris. Duncan pun sadar, hal ini pasti menjadi tantangan besar baginya.

Namun, bertahun-tahun kemudian, Duncan bersyukur dulu sempat memberontak. Kerja kerasnya terbayar karena pandangan ayahnya tentang arsitek perempuan mulai berubah.

“Dia melunak sedikit setelah mengetahui gelar pertama saya dan setelah saya mulai mendapatkan pengalaman sebagai insinyur pada satu proyek. Meskipun satu-satunya wanita di tim saya, saya sangat menikmati pengalaman-pengalaman awal saya,” jelas Duncan.

Saat itu, kata Duncan, tim proyek memberikan perhatian besar untuk menunjukkannya bagaimana cara memadatkan beton, memotong pipa besi cor, membaringkan batu bata dan, yang paling penting, melihat seperangkat rencana arsitek dari mata kontraktor.

Ayahnya pun berubah pikiran sepenuhnya setelah Duncan telah memenuhi syarat membuka praktek. Lucunya, Duncan bahkan meminta ayahnya untuk ikut membantu pekerjaan timnya.

Di sekolahnya, Duncan juga mendapatkan perlakuan yang tidak jauh berbeda. “Menjadi perempuan pertama di sekolah saya yang ingin belajar arsitektur, saya menerima sedikit saran dan motivasi,” kata Duncan.

Namun, hal ini tidak menghentikannya belajar dan akhirnya ia bisa masuk salah satu universitas dengan jurusan arsitektur.

Beberapa tahun kemudian, pada pos pertama, Duncan diwawancarai untuk peran teknisi, namun ia tidak benar-benar memenuhi syarat. Setelah itu, pihak pewawancara meneleponnya kembali untuk membahas peran sebagai asisten salah satu mitra.

Saat diwawancara, perusahaan tersebut secara tajam mencatat bahwa Duncan baru saja menikah dan bertanya apa yang akan terjadi jika dirinya hamil. “Jawaban saya cukup menohok dia, karena saya katakan bahwa saya akan memiliki anak. Dia pun malu dan minta maaf setelah itu,” sebut Duncan.

Bukan profesi yang dipaksakan

Ia menambahkan, arsitektur memiliki cakupan mata pelajaran yang sangat luas, antara lain perencanaan, penganggaran, psikologi, sejarah, teknologi dan tentu saja, proses kreatif. Arsitektur bukanlah karir yang bisa dipaksakan karena menuntut stamina, bakat, keberanian dan kepercayaan.

Jadi, mengapa wanita harus belajar arsitektur? Singkatnya, menurut Duncan, arsitektur menuntut seseorang untuk kreatif dan intuitif. Arsitektur memiliki banyak variasi dan sangat menantang. Sementara itu, wanita hidup, bekerja dan bermain di lingkungan yang dibangun, hanya 20 persen dari mereka yang berlatih menjadi arsitek.

Padahal, arsitektur memiliki persentase tertinggi perempuan di industri ini, sementara insinyur hanya enam persen. Namun, jumlahnya harus terus tumbuh mengingat lingkungan yang berkembang. Baik domestik maupun internasional, jumlah klien pun semakin beragam.

Meskipun wanita sekarang mewakili 44 persen di entry level, mereka menghilang sebelum masuk ke tahap selanjutnya, yaitu pelatihan hingga benar-benar mencapai kualifikasi profesional.

“Sebagai pembela kesetaraan dan keanekaragaman di RIBA, saya berjuang untuk mendorong kesadaran dan menunjukkan mengapa kita harus memecahkan hambatan ini,” jelas Duncan.

Ia melanjutkan, sangat mudah untuk menunjukkan bahwa laki-laki tidak dapat merancang untuk perempuan. Tetapi kenyataannya adalah bahwa arsitek yang baik harus bisa berpikir tentang semua hal secara holistik terlepas dari gender mereka.

Pria dan wanita membawa keterampilan dan cara memberikan kontribusi yang berbeda. Praktek yang paling sukses adalah saat arsitektur bisa memenuhi kebutuhan semua pengguna.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me