Peduli Lingkungan, Yayasan Agung Podomoro Land Kelola “Green Waste”

Big Banner

Jakarta – Pengelolaan sampah adalah salah satu hal pelik bagi Jakarta. Bayangkan. Setiap hari ada 6.500 ton sampah baru yang berasal dari warga Jakarta. Semuanya harus segera dikirim ke tempat pembuangan akhir di Bantar Gebang. Kini sampah semakin menggunung di sana.

Khusus di saat puasa Ramadan ini, Pemerintah Jakarta mencatat ada penambahan sampah sedikitnya 20% atau menjadi 7.800 ton setiap harinya. Semuanya hanya dilayani oleh 1.100 truk, sebagian rusak dan tidak bisa beroperasi.

Menurut Pemerintah Jakarta, 53% sampah itu berasal dari rumah tangga dan 47% dari buangan berbagai industri. Pengertian rumah tangga itu meliputi keluarga di hunian vertikal serta yang berada di landed housing atau perumahan.

Terpanggil oleh kenyataan semua itu PT Agung Podomoro Land, Tbk (APLN) sebagai pengembang yang menyediakan hunian vertikal dan lingkungan hidup modern, APLN berinisiatif untuk berperan serta membantu meringankan beban Jakarta terhadap sampah.

APLN melalui kerangka Corporate Social Responsibility (CSR) telah berinisiatif menyelenggarakan program pengelolaan sampah yang disebut Green Waste.

Yayasan Agung Podomoro Land (YAPL), sebagai pelaksana kegiatan CSR, menyadari bahwa hidup di hunian vertikal dan superblok masih relatif budaya baru di Jakarta. Karenanya YAPL memulai upaya green waste dengan mengajak para penghuni apartemen mengenai betapa perlunya mengubah kebiasaan dalam hal memperlakukan sampah, antara lain dengan memilah dan mengemas sampah sebelum dibuang.

“Pengelolaan sampah secara green waste ini lebih sekedar dari upaya untuk hidup bersih dan membantu mengurangi beban lingkungan terhadap sampah namun juga sebagai upaya kami membentuk hidup yang harmonis berupa kerukunan antar penghuni apartamen dengan warga sekeliling,” kata Indra W. Antono, Wakil Ketua Yayasan Agung Podomoro Land melalui siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Jumat (26/6).

Bekerjasama dengan PT Prima Buana Internusa (PBI) selaku pengelola unit apartemen dibawah APLN, green waste telah dijalankan di Podomoro City, Kalibata City, Sudirman Park, CBD Pluit dan Gading Nias Residences.

“Penghuni di sini menilai pengelolaan green waste ini seabagai sesuatu hal positif dan perlu didukung serta menjadi nilai tambah layanan Agung Podomoro, dan sebagai bentuk inspirasi untuk membentuk gaya hidup bersih sekaligus peduli,” kata Hendra Joswijaya, ketua perhimpunan penghuni.

Pada program ini YAPL bersinergi dengan tenaga cleaning service, pemulung dan juga pengepul sampah atau barang bekas. Mereka, terutama pemulung dilibatkan untuk menjadikan sampah anorganik menjadi lahan bisnis. Mulai dari pemilahan sampah anorganik hingga hasilnya dapat dijual ke pengepul untuk kemudian masuk ke industri daur ulang.

Sementara jenis sampah organik ditampung dan diolah di fasilitas pengelolaan sampah (green waste). Setelah melalui pengolahan dengan alat tertentu, maka hasilnya berupa kompos dan gas metana. Khusus kompos sebagian dimanfaatkan sebagai penyubur taman maupun area hijau di lokasi proyek-proyek yang dikelola APLN dan juga dibagikan kepada masyarakat di lingkungan sekitar.

“Jadi proses green waste intinya memgolah sampah sehingga sebanyak mungkin bisa dimanfaatkan lagi seperti kompos untuk pertamanan dan didaur ulang,” kata Kadek R. Biantara, koordinator pelaksana green waste Agung Podomoro Land.

Sedangkan gas metana yang dihasilkan memang belum banyak dimanfaatkan karena dibutuhkan kelengkapan dan teknologi tambahan lainnya. Program green waste yang dilaksanakan oleh YAPL ini barulah sebuah awalan dan akan terus dikembangkan sehingga dapat menjadi inspirasi bagi semua pihak untuk peduli sesama, lingkungan hidup, dan menjadikan Jakarta kota yang lebih baik.

Kegiatan pengelolaan green waste ini sejalan dengan komitmen APLN untuk menghadirkan karya-karya terbaik dan berkualitas demi membangun kehidupan yang penuh harmoni.

Yudo Dahono/YUD

PR

beritasatu.com