Kebijakan Uang Muka Tak Mampu Tahan Spekulan

Big Banner

Jakarta – Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia Setyo Maharso menilai kebijakan uang muka Kredit Pemilikan Rumah tidak mampu menahan para spekulan properti. Alasannya, kata Setyo, spekulan tidak menggunakan KPR saat membeli properti.

“Mereka paham akan dikenai penalti jika rumah tersebut lunas dalam waktu satu tahun,” kata Setyo saat dihubungi, Senin, 22 Juli 2013.

Setyo menjelaskan bank yang menyetujui KPR yang diajukan oleh nasabah memiliki tingkat kehati-hatian. Jika bank tersebut menilai nasabah tidak mampu membeli dengan harga yang ditawarkan, Setyo melanjutkan, maka uang muka akan diturunkan menjadi 50 persen.

Menurut Setyo, kebijakan ini membuat seolah sektor properti memiliki masalah. Padahal, kata dia, pihak pengembang akan lebih waspada jika ada kenaikan suku bunga pinjaman yang akan menyebabkan lambatnya penjualan properti. “Masyarakat akan lebih kaget jika suku bunga naik,” kata dia.

Masalahnya, tutur Setyo, jika kekagetan masyarakat berlangsung hingga akhir tahun, maka penjualan properti akan menurun hingga akhir tahun. Padahal, kata dia, tingkat penjualan properti mencapai nilai tertinggi pada triwulan terakhir.

Selain itu, kata Setyo, Indonesia belum memiliki basis data mengenai kepemilikan rumah. Sehingga, masyarakat masih dapat membeli rumah berkali-kali tanpa melanggar peraturan apa pun. “Saya kan tetap bisa membeli rumah menggunakan KTP orang tua saya, misalnya,” ujar Setyo.

Bank Indonesia akan menetapkan aturan uang muka kredit kepemilikan rumah di atas 70 meter persegi. Untuk KPR di atas 70 meter persegi, BI menetapkan uang muka minimal 30 persen bagi kredit pemilikan pertama, minimal 40 persen bagi kepemilikan kedua, minimal 50 persen bagi kepemilikan ketiga, dan seterusnya.?

Aturan ini dibuat setelah BI mencermati pertumbuhan kredit yang signifikan untuk properti yang dimaksud. Mengacu pada data BI per Mei 2013, KPR tipe 70 meter2 naik 25,9 persen dengan baki debet Rp 98,3 triliun. Kredit untuk flat atau apartemen tipe 21 meter2 tumbuh 100,3 persen dengan baki debet Rp 700 miliar. Flat atau apartemen tipe 22 – 70 meter2 tumbuh 111,1 persen dengan baki debet Rp 6,2 triliun. Sementara itu, Flat atau apartemen tipe di atas 70 meter2 tumbuh 60,3 persen dengan baki debet 4,5 triliun.?

LINDA HAIRANI

properti.tempo.co

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me