REI Kesulitan Bangun 230.000 Rumah

Big Banner

 Jakarta – Real Estat Indonesia (REI) mengaku kesulitan membangun 230.000 rumah pada 2015. Sejumlah kendala mengganjal pencapaian target itu seperti masalah perizinan dan rentang waktu yang sempit.

“Waktu yang diberikan kepada kami untuk mendukung program pemerintah ini sangat sempit, program sejuta rumah ini baru dimulai pada April 2015 sehingga sulit bisa membangun 230.000 dalam waktu enam bulan,” kata Ketua Umum DPP REI, Eddy Hussy.

Menurut dia, pada 2015, pihaknya hanya mampu membangun 118.000 unit di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu hingga kini baru terlaksana sekitar 28 persen atau sekitar 32.000 rumah yang terbangun. “Sulit tercapai sampai akhir tahun dari target 287.000 unit rumah,” kata dia.

Persoalan yang mengganjal, tegasnya, selain masalah perizinan di daerah juga terkendala masalah infrastruktur. Padahal, katanya, membangun rumah tanpa infrastruktur penunjang tidak akan diminati konsumen.

“Infrastrukturnya kurang, seperti jalan, air bersih dan listrik. Hal ini membuat masyarakat enggan untuk membeli,” lanjutnya.

Karena itu, tambahnya, REI meminta agar pemerintah daerah ikut membangun membangun infrastruktur. Lewat dukungan seperti itu percepatan pembangunan sejuta rumah bisa lebih diwujudkan. Rumah akan cepat terbangun dan terserap masyarakat.

Dia menegaskan, harga rumah yang ditetapkan pemerintah selama ini tidak mendorong pengembang untuk membangun lebih cepat. Harga rumah yang ditetapkan pemerintah saat ini sudah tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Inflasi yang sebesar 5 persen per tahun membuat pengembang enggan untuk membangun dengan ukuran rumah lebih besar lagi.

“Karena itu, kami mengusulkan agar pemerintah mematok harga rumah subsidi maksimum Rp 200 juta. Bila harga segitu pengembang bisa lebih baik cepat lagi membangun rumah murah,” ujar Eddy Hussy.

Investor Daily

Imam Mudzakir/FER

Investor Daily

beritasatu.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me