Target Sejuta Rumah Terancam Meleset karena Pasarnya Tergerus

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Terancam melesetnya target Program Nasional Satu Juta Rumah, sudah diduga banyak kalangan. Termasuk oleh para pengembang sebagai pelaku yang diajak berpartisipasi. 

Komisaris PT Hanson Land International Tbk., Tanto Kurniawan, mengutarakan pesimismenya terkait pembangunan Satu Juta Rumah. 

“Baru dua bulan ramalan sudah terbukti. Ini karena situasi ekonomi yang tidak kondusif. Penjualan anjlok. Kita tidak bisa melawan ‘hukum alam’,” tutur Tanto kepada Kompas.com, Rabu (1/7/2015). 

Hal senada dikemukakan Ketua DPD REI Sulawesi Selatan, Raymond Arfandy. Menurutnya, program ini berat untuk direalisasikan karena pasarnya tidak ada.

Segmen sasaran ini, kata Raymond, adalah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang tidak memiliki akses perbankan atau non-bankable. Kondisi tersebut diperparah dengan melambatnya ekonomi sehingga daya beli tergerus.

“MBR sasaran adalah petani, nelayan, pedagang keliling, dan mereka yang tidak memiliki penghasilan tetap. Komposisinya mencapai 70 persen dari target sasaran, selain buruh pabrik dan pekerja rendahan,” papar Raymond.

Dia melanjutkan, mereka sebetulnya mampu mencicil angsuran bulanan. Namun, karena tidak bankable mereka seringkali ditolak oleh bank penyalur kredit pemilikan rumah (KPR). 

“Mereka mana ada berpikir menyimpan uang di bank atau punya rekening bank? Di Sulawesi Selatan, banyak MBR yang seperti ini, ditolak bank penyalur KPR,” tandas Raymond.

Kalau sudah begitu, tambah Raymond, siapa yang akan menyerap rumah-rumah murah yang dibangun pengembang. Sementara di sisi lain, pengembang baru akan membangun rumah murah kalau sudah ada pembelinya.

Oleh sebab itu, Raymond meminta pemerintah memikirkan skema untuk membantu MBR yang non-bankable ini. 

“Kalau ditanya pengembang kuat membangun atau tidak, ya pasti kuat. Pertanyaannya adalah ada pasarnya tidak? Karena kalau tidak laku yang rugi kan pengembang. Kami sudah berinvestasi tapi modal tidak kembali. Ini bahaya,” cetus Raymond.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Syarif Burhanuddin mengakui Program Satu Juta Rumah tidak bisa rampung tahun ini.

“Namun, sejuta rumah ini tidak berarti dalam setahun terbangun sejuta karena pembangunan kan bertahap. Tapi, programnya tahap pertama ini sudah jalan,” ujar Syarif kepada Kompas.com, Selasa (30/6/2015).

Organisasi pengembang Real Estat Indonesia (REI) saja, sebut dia, merevisi jumlah rumah terbangun tahun ini. Sebelumnya, REI menargetkan 230.000 rumah yang terbangun, tapi diprediksi akhir tahun ini selesai seratus ribuan unit.

Meski begitu, Syarif tidak mempersoalkan target yang tidak tercapai ini. “Paling tidak kan (pembangunan oleh REI) itu berjalan terus menuju 230.000. Pembangunan kan tergantung pasar,” kata Syarif.

Ia melanjutkan, saat ini pengembang baru membangun rumah setelah ada yang memesan. Hal ini berbeda dengan sistem yang dulu, yaitu pengembang membangun rumah baru kemudian dijual.


Pembangunan fisik rusun tertunda

Sampai hari ini, menurut Syarif, realisasi fisik rumah, masih berlangsung. Sementara itu, untuk rumah susun (rusun), prosesnya masih terhambat.

“Satu-satunya yang belum dalam bentuk fisik adalah rusun, yang dibuat oleh Perumnas. Itu kan butuh tahapan,” ujar Syarif.

Saat ini, pembangunan rusun yang berlokasi di Cengkareng tersebut, masih dalam tahap pengecekan tanah. Namun, kegiatan yang mengarah kepada pembangunan fisiknya sudah mulai dilaksanakan.

Rusun yang dimaksud adalah Cluster A8 Cengkareng, Jakarta Barat. Rusun tersebut akan berdiri di lahan seluas 4,97 hektar dan dibangun sebanyak 5.439 hunian beserta fasilitas pendukung lainnya.

Pembangunan rusun ini merupakan kerja sama antara Perumnas dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Rencananya, rusun ini akan mencakup 18 menara yang masing-masing terdiri atas 24 lantai.

 

properti.kompas.com