Pelonggaran LTV Tidak Untungkan Pengembang Properti

Big Banner

Asosiasi Pengembang Perumahan Rakyat Seluruh Indonesia (AP2ERSI) menilai, pelonggaran rasio Loan to Value (LTV) atau aturan kredit pada sektor properti tidak serta merta menguntungkan pengusaha atau pengembang properti.

“Pelonggaran LTV berarti akan ada pengurangan uang muka yang dibayarkan konsumen dengan tujuan agar konsumen perumahan bisa lebih mudah membeli rumah. Uang muka kurang, tapi cicilan pokok tentunya nambah,” kata Penasehat DPP AP2ERSI, Yusuf Fitriadi di Jakarta, Kamis (9/7).

Konsumen, menurut Yusuf, akan dibebankan cicilan dengan bunga tinggi dari bank. Dari sisi pengusaha, uang muka yang kecil, dibawah 30%, membuat pengembang harus lebih siap dalam modal kerja.

“Pelonggaran LTV belum tentu efektif untuk mendongkrak bisnis properti yang sedang turun. Meski stok rumah terpenuhi, namun konsumen tidak bisa membeli karena daya belinya yang rendah,” paparnya.

Yusuf menyatakan, pelonggaran LTV hanya akan memicu aksi spekulasi para investor yang menjadikan properti sebagai rumah investasi. Tetapi, spekulan rumah investasi saat ini masih menunggu kondisi ekonomi membaik, sehingga pelonggaran LTV tidak akan signifikan menaikan penjualan properti.

“Properti adalah sektor yang sangat komplek, kebijakan pemerintah bisa merugikan atau menguntungkan suatu pihak. Pemerintah harus pandai mengatur ritme kebijakan,” ujar Yusuf.

Yusuf menambahkan, yang dibutuhkan oleh pengembang perumahan adalah mengembalikan lagi kebijakan rumah indent.

“Dengan KPR rumah indent pengembang, konsumen dan perbankan akan diuntungkan. Dengan rumah indent, pengembang akan mendapatkan modal kerja pinjaman dari bank lebih cepat,” tuturnya. (as/imq)

ciputraentrepreneurship.com