Masyarakat Pilih Rumah Tapak Ketimbang Apartemen

Big Banner

Jakarta – Minat warga Indonesia membeli apartemen naik 60 persen dibanding tahun tahu. Namun, 79 persen responden tetap memilih rumah tapak sebagai tempat tinggal dan investasi. Masih tingginya minat properti rumah tapak, menurut General Manager Rumah123.com Andy Roberts, dipengaruhi kondisi geografis Indonesia. “Hal ini disebabkan di Indonesia masih ada tempat untuk membangun atau membeli rumah tapak,” kata dia saat mempresentasikan hasil riset sentimen pasar properti di Jakarta, Selasa, 20 Agustus 2013.

Andy mengatakan, berdasarkan data yang lembaganya himpun, di Indonesia hanya 13 persen responden yang memilih apartemen sebagai properti. Sementara itu, di negara lain seperti Malaysia, Singapura, dan Hong Kong, minat properti apartemen selalu tinggi. Minat itu, menurut Andy, dipengaruhi ketersediaan lahan perumahan di Indonesia yang masih luas.

Andy membandingkan harga rumah tapak di Malaysia, Hong Kong, dan Singapura yang lebih mahal dibanding Indonesia. “Akibatnya di sana kondominium jadi pilihan favorit,” ujar Andy Roberts.

Di Indonesia, responden yang memilih investasi pada rumah tapak menilai harga tanah akan semakin mahal, lantaran ketersediannya untuk perumahan kian sempit sementara kebutuhannya semakin besar. Saat ini, itulah alasan yang memotivasi warga Indonesia memilih rumah tapak sebagai investasi. Persentase pembelian rumah untuk tempat tinggal diamini 80 persen responden, sementara investasi 49 persen dan tabungan pensiun 38 persen.

Rumah123.com menggelar riset pada 3 Juni hingga 2 Juli lalu pada 10.179 responden. Selain di Indonesia, riset itu digelar di Hong Kong, Malaysia, dan Singapura. Riset itu menunjukkan kecenderungan pasar properti Indonesia yang tetap naik, meski diberlakukan regulasi baru, misalnya besaran kredit pemilikan rumah.

DIAN KURNIATI

properti.tempo.co