Kepemilikan Properti Asing Tidak Menguntungkan Negara

Big Banner

Senior Associate Director and Head of Research & Advisory dari konsultan Cushman & Wakefield Indonesia, Arief Rahardjo, menyatakan wacana pembukaan kepemilikan asing untuk properti tidak akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan sektor properti nasional.

Menurut Arief, jumlah orang asing atau ekspatriat yang bekerja di Indonesia tidak mengalami pertumbuhan berarti dari tahun ke tahun. Jadi signifikasinya sangat kecil sekali. Melihat kondisi ini, Negara tidak diuntungkan dengan perubahan dan perluasan status kepemilikan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 tahun 1996.

Tidak banyak pengembang yang mau atau berani membangun properti, khususnya apartemen strata, dengan harga jual minimal Rp 5 miliar seperti usulan Real Estat Indonesia (REI) kepada pemerintah untuk dapat dibeli orang asing.

Melalui analisa yang disampaikan Arief, dengan pasokan apartemen strata sebanyak 157.000 unit pada kuartal kedua 2015, diperkirakan hanya 10 persen sampai 13 persen di antaranya masuk dalam kategori upper segment atau yang diizinkan untuk dimiliki oleh warga asing. Sementara itu pasokan untuk kelas menengah masih tetap mendominasi yakni sebanyak 37,5 persen. 

Hasil analisa yang dari Cushman & Wakefield menyatakan, tingkat hunian Apartemen sewa turun sebesar 2.7% dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 61.46%. Sub-sektor Apartemen Servis mengalami penurunan tingkat hunian lebih lanjut pada kuartal ini sebesar 2.5% dibandingkan kuartal sebelumnya atau turun sebesar 9.4% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, menjadi 71.4%. Serupa dengan sub-sektor Apartemen Servis, Apartemen Khusus Sewa juga mengalami penurunan 1.0% dari kuartal sebelumnya menjadi 82.2%.

Kondisi melemahnya perekonomian yang terjadi sekarang ini, justru membuat banyak orang asing pindah, mencari apartemen dengan harga sewa yang lebih murah dan ukuran yang lebih kecil.

“Tren relokasi ini yang membuat pengembang atau pengelola apartemen mengoreksi harga sewa menjadi lebih murah 3,8 persen menjadi 18,6 dollar per meter persegi setiap bulan,” kata Arief.

 

Tidak Akan Terjadi Bubble Property

Hadir dalam acara tersebut, Kepala Ekonom Bank BCA David Sumual yang antara lain menyatakan bahwa kepemilikan properti oleh WNA tidak akan menyebabkan terjadinya bubble jika pemerintah telah menetapkan kebijakan pencegahan, demikian disampaikan kepada Vibiznews di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (8/7/2015)

Untuk mengatasi hal ini, menurut David pemerintah harus membuat kebijakan buka tutup pada investasi kepemilikan properti yang masuk ke Indonesia dengan cara membuka keran investasi properti oleh asing hanya untuk mendorong pertumbuhan saat ekonomi sudah mulai  melambat. Sistem buka tutup investasi di sini bukan dari tahun ke tahun, atau bulan ke bulan, tapi kapan saja setiap ada kemungkinan bubble harus segera ditutup.

 

Pestaria Siregar/Assistant Director of Property Business Academy

Editor : Asido Situmorang

image : antarafoto

vibiznews.com