Kepemilikan Properti Asing Belum Tentu Sebabkan Bubble

Berkembangnya wacana kepemilikan Warna Negara Asing (WNA) akan properti di Indonesia menimbulkan ketakutan tersendiri bagi pihak penggiat properti tanah air. Salah satunya adalah munculnya efek bubble properti, yakni melambungnya harga properti seperti balon (bubble) yang terus menguap hingga pada akhirnya pecah.  

Pasalnya, kebebasan WNA membeli properti akan memicu kenaikan harga properti di tanah air. Sementara itu di sisi lain, naiknya harga di lingkungan ekspatriat juga bisa memacu lonjakan harga di semua sektor, tak hanya properti. 

Kendati demikian, David E. Sumual, Chief Economist BCA mengatakan bahwa kepemilikan asing belum tentu sebabkan bubble, semua tergantung kewaspadaan pemerintah dalam memantau lonjakkan harga. Namun jika dilihat pada kondisi ekonomi yang seperti ini, Indonesia diakui David masih sulit memancing investor dan jauh dari bubble.  

“Hanya belakangan ini saja yang ada tanda-tanda positif. Relokasi APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) yang awalnya untuk biaya konsumtif (subsidi BBM) ke biaya yang lebih produktif (pembangunan infrastruktur) sudah mulai memberikan hasil,” jelas David kepada Rumahku.com. 

BACA JUGA : ARIFKAH JIKA PEMERINTAH SAHKAN KEPEMILIKAN PROPERTI ASING?

Hal lain yang perlu dilakukan pemerintah guna menyeimbangkan kepemilikan asing adalah percepatan pembangunan rumah subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah.  

“Rumah rakyat tetap harus diberikan, anggaran kita untuk rumah rakyat kan masih sangat kecil, yakni sekitar 0,1 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto) sekitar Rp2 triliun itu harus ditingkatkan. Tapi kita lihat juga, jika sudah berpotensi sebabkan bubble, kita kenakan tax, dan macro prudential policy nya dimainkan, seperti Singapura,” ungkap David. 

Menurut David, kepemilikan properti asing perlu disaring keberadaannya layaknya negara maju seperti United States dan Kanada. Misalnya dengan pemberian green card (permanent resident) hanya kepada mereka yang memberikan investasi di atas USD 500 ribu untuk negara.  

“Sekarang ekonomi Amerika sedang melambat, mereka mengundang investor. Yang penting, aturan kepemilikan asing nggak boleh setengah-setengah. Jangan sudah diajukan terus direvisi lagi. Seharusnya dikaji dulu, baru ditanda tangani, jangan terbalik,”  pungkas David.

rumahku.com