Harga Rumah Segera Naik

Big Banner

JAKARTA – Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Aspersi) menyatakan kenaikan BI rate dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat berdampak pada harga rumah. “Harga rumah pasti naik,” kata Ketua Aspersi, Eddy Ganefo, saat dihubungi Tempo, Jumat, 30 Agustus 2013.

Ia menjelaskan, dengan kondisi saat ini, bank tidak akan lagi menahan kenaikan suku bunga. Menguatnya dollar, kata Eddy, mempengaruhi kegiatan pengusaha dan pengembang perumahan. Ia menyebut mayoritas pengusaha membangun rumah atau properti dengan memanfaatkan dana bank.

“Ini bertambah suram, khususnya untuk masyarakat kelas bawah,” ucapnya. Eddy mengungkapkan, harga rumah pasti naik, karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, ditambah kenaikan suku bunga pinjaman bank. Hal tersebut dipandangnya memberatkan pengembang jika harus menahan harga.

Eddy mengatakan pemerintah pun belum merespon usulan asosiasi untuk menaikkan harga rumah bersubsidi. Tanpa intervensi pemerintah, ia melanjutkan, harga rumah bersubdsidi diperkirakan naik hingga 24 persen. Komponen-komponen kenaikan tersebut terdiri dari 10 persen pajak pertambahan nilai (PPN), 4 persen pajak pengasilan (PPh) serta 10 persen dari kenaikan harga BBM bersubsidi dan BI rate.

Namun, Eddy menyampaikan, jika pemerintah segera melakukan penyesuaian terhadap harga rumah bersubsidi, maka kenaikan harga hanya sebesar 10 persen. Kenaikan BI rate dan melemahnya rupiah menurut Eddy telah mendatangkan dilema bagi para pengusaha. Ia menkelaskan, masyarakat berpenghasilan rendah belum bisa mecukupi kebutuhan mereka dengan kenaikan harga BBM bersubsidi dan BI rate.

“Seharusnya pemerintah menambah subsidi, melalui subsidi uang muka misalnya,” ujar Eddy. Ia menuturkan, sembari menunggu kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga rumah bersubsidi, para pengusaha pun kini hanya membangun rumah yang sudah terpesan. Sebenarnya, ia mengungkapkan, penjualan rumah untuk kuartal dua mulai kencang.

Namun kemudian perlambatan terjadi dengan signifikan karena kenaikan BI rate dan menguatnya dollar AS. “Diperkirakan perlambatannya itu 5-10 persen,” ucapnya.

MARIA YUNIAR

properti.tempo.co

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me