Operator Hotel Panen Okupansi

Big Banner

Jakarta – Para operator hotel mengantongi tingkat hunian (okupansi) pada musim mudik Lebaran 2015. Okupansi terendah di angka 83 persen, sedangkan mayoritas hotel di kota-kota wisata menyentuh angka 100 persen. Beberapa aspek yang mendongkrak okupansi hotel adalah tradisi mudik, kekuatan daya beli para tamu, serta jeda waktu antara liburan sekolah dan Lebaran.

“Selama musim liburan Lebaran okupansi hotel-hotel kami diprediksi mencapai tingkat hunian maksimal, yaitu 100 persen,” kata Adi Satria, Vice President Sales Marketing Distribution, AccorHotels Malaysia-Indonesia-Singapore.

Accor Hotels mengoperasikan sembilan merek hotel di Indonesia mulai dari segmen economy hingga luxury. Untuk segmen luxury merek yang diusung Sofitel, sedangkan segmen upscale mencakup Pullman, MGallery, dan Grand Mercure. Di segmen midscale ada Novotel dan Mercure, sedangkan segmen economy terdiri atas ibis Styles (premiumeconomy), ibis (standard economy), dan ibis Budget (premium-budget). Hingga kini, Accor Hotels sedikitnya mengelola 18 ribuan kamar hotel atau setara dengan sekitar 8 persen dari total kapasitas kamar hotel yang ada di Indonesia saat ini.

“Komposisi hotel kami berimbang, 50:50 untuk hotel luxury, upscale, dan midscale berbanding economy hotels,” jelasnya.

Dia mengaku, hotel kelolaannya mencatat okupansi hingga 100 persen terutama di beberapa kota seperti Solo, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. “Bali walaupun bukan daerah destinasi utama bagi para pemudik, juga ditargetkan mengalami peningkatan okupansi karena sebagian turis domestik memadati Bali dan sekitarnya untuk berlibur selama masa Liburan Lebaran,” ujar Adi Satria.

Menurut dia, faktor yang mempengaruhi tingkat okupansi musim libur Lebaran di antaranya karena lokasi hotel yang berada di destinasi pemudik. Okupansi meningkat karena para pemudik berdatangan dari kota-kota besar untuk berkumpul dengan keluarga besar merayakan Lebaran di kota asal.

“Saat mudik di kota asal, para pemudik memerlukan akomodasi, salah satunya adalah menginap di hotel-hotel sekitar,” paparnya.

Selain itu, tambahnya, daerah wisata seperti Bali dan sekitarnya ketiban rezeki dari turis domestik yang sedang menghabiskan masa liburannya.

Corporate Promotion Officer Santika Indonesia Hotels & Resorts Lisda Ratna Juwita, menambahkan, faktor yang membuat okupansi tinggi, jika hotel tersebut berada di daerah tujuan wisata, biasanya tamu yang menginap merupakan tamu yang membawa serta keluarganya untuk liburan. Atau, tambahnya, untuk menikmati destinasi wisata yang berada di daerah tersebut. Sedangkan yang membuat okupansi rendah, biasanya ini terjadi di hotel-hotel yang beada di kawasan bisnis seperti di Jakarta.

“Karena untuk periode Lebaran ini kebanyakan orang memilih untuk menghabiskan masa liburannya di kampung halaman,” tuturnya.

Bagi Corporate Communication Manager Tauzia Hotel Management, Yosua Tanuwiria, ada aspek-aspek lain yang membuat okupansi hotel meningkat saat musim libur Lebaran. Berdasarkan perhitungan umum rata-rata okupansi hotel kelolaan Tauzia mencapai sekitar 78 persen.

Investor Daily

/FER

Investor Daily

beritasatu.com