Tahun Depan, Dana Subsidi Rumah Capai Rp 9,3 Triliun

Big Banner

Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) optimistis pembiayaan perumahan tahun 2016 akan jauh lebih bagus dibandingkan dengan setahun sebelumnya. Optimisme mencuat seiring ditingkatkannya dana subsidi rumah melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Skema yang ditujukan untuk Program Sejuta Rumah itu dituangkan di dalam rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016 yang mencapai sekitar Rp 9,3 triliun.

“Kami sudah mengajukan pagu indikatif ke Kemenkeu dan sudah tersedia sebesar Rp 9,3 triliun khusus untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) berskema FLPP, sementara untuk subsidi selisih suku bunga sebesar Rp 900 miliar. FLPP itu naik hampir 100 persen,” ungkap Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Kempupera, Maurin Sitorus.

Dia menjelaskan, skim KPR FLPP dan skim subsidi selisih bunga (SSB) rencananya akan diterapkan oleh Kementerian PUPR pada 2016. Mekanismenya, kata dia, pemerintah akan menerapkan terlebih dahulu skim KPR FLPP mulai Januari 2016 atau sampai dana untuk skim KPR FLPP habis.

“Selanjutnya, apabila KPR FLPP tahun 2016 telah habis, kami akan memberlakukan skim subsidi selisih suku bunga. Hal ini sama dengan konsep pembiayaan yang akan dijalankan tahun 2015,” jelas Maurin.

Menurut dia, dari alokasi anggaran sebesar Rp 9,3 triliun yang melalui skim KPR FLPP ditargetkan dapat membangun perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebanyak 100.000 unit.
“Kalau tahun ini kan hanya Rp 5,1 triliun dan itu hanya diperuntukkkan bagi 58 ribu rumah dan tahun depan FLPP ini bisa membangun 100.000 unit sehingga jauh lebih besar,” kata dia.

Maurin menjelaskan, terkait skim SSB, dananya 100% disiapkan oleh perbankan, pemerintah akan membayar selisih suku bunganya, yaitu selisih suku bunga KPR FLPP dan suku bunga komersial.
“Pemberlakuan skim subsidi selisih bunga ini tidak akan merugikan perbankan. Keuntungan bank akan tetap dan masyarakat berpenghasilan rendah atau debitur tetap membayar suku bunga sebesar 5 persen,” katanya.

Sementara itu, realisasi KPR FLPP Januari-Mei 2015 mencapai sebanyak 28.740 rumah. Sedangkan mulai Agustus sampai Desember 2015, pemerintah akan memberlakukan skim SSB yang diperkirakan dapat menyerap sekitar 55.000 unit rumah.

Selain itu, tambah dia, pada 2015 pemerintah juga mengalokasikan anggaran untuk subsidi uang muka sebesar Rp 220 miliar untuk 55.000 unit rumah.

Maurin mengatakan, pemerintah akan memperketat peraturan terkait dengan persyaratan bagi MBR untuk mengakses KPR FLPP maupun subsidi uang muka.

Potensi Lainnya

Sementara itu, terkait potensi pembiayaan lainnya, Maurin mengatakan bahwa pemerintah memiliki pembiayaan lain untuk skim SSB yang berasal dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Saat ini, potensi yang satu ini mencapai Rp1 triliun dan dikelola oleh Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Perumahan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (BLU – PPP, Kementerian PUPR).

“Penggunanan PNPB dari BLU-PPP sudah disetujui oleh Wakil Presiden dan kita butuh peraturan presiden untuk pelaksanaannya. Draf untuk itu sudah kita buat,” kata dia.

PNBP ini, kata Maurin, diterima oleh BLU-PPP dari Asosiasi Real Estate Indonesia (REI) yang dikenakan atas penyaluran FLPP yang sebelumnya 0,5 persen dan sejak suku bunga FLPP turun dari 7,25% menjadi 5 persen, PNBP yang diserahkan REI turun menjadi 0,3 persen.

“Kedua, penghasilan BLU-PPP ini dari dana-dana yang ditempatkan di bank pelaksana, ada suku bunganya, inilah sumbernya,” ujar Maurin.

Pada kesempatan lain, Maurin pernah mengatakan bahwa ada bank asing yang tertarik untuk membantu pembiayaan perumahan. “Potensi pembiayaan lainnya adalah pinjaman langsung dari bank asing seperti, World Bank, IFC dan ADB. Mereka tertarik untuk membantu sektor perumahan,” kata dia.

Imam Mudzakir/FER

Investor Daily

beritasatu.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me