Aga Khan IV Buka Pusat Kultur Islam di Kanada

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Kalangan arsitek dipastikan mengenal tokoh ini. Keturunan Iran (bahkan disebut-sebut mempunyai darah Nabi Muhammad SAW) yang bermukim di Inggris ini, setiap tiga tahun sejak 1977 mengadakan “kompetisi” di bidang arsitektur dan lingkungan perkotaan. Sejumlah pengembangan di Indonesia pernah mendapatkan Aga Khan Award for Architecture ini, seperti Pondok Pesantren Pabelan (Muntilan, Jawa Tengah), Masjid Saïd Naum Jakarta, peremajaan Kampung Kebalen Surabaya dan lansekap Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.

Aga_Khan_Museum

Aga Khan IV, pencetus penghargaan tersebut adalah salah satu orang kaya dunia. Dengan harta senilai 800 juta dollar AS (Rp 10,8 triliun) pada tahun 2010, Forbes menempatkannya dalam sepuluh keturunan raja terkaya di dunia.  Selain arsitekur, filantropis ini pun peduli pada pengembangan seni, budaya, sejarah dan pendidikan, serta agama. Itulah sebabnya, Aga Khan membangun pusat kultur Islam di Toronto, Kanada, yang salah satu misinya adalah mengenalkan kultur dan sejarah Islam kepada dunia dan dibuka secara resmi Mei lalu.

Berlokasi di 7 Wynford Drive, tidak jauh dari Eglinton Avenue, selain museum, di tapak seluas 6,8 ha juga berdiri Ismaili Center dan Aga Khan Park. Area ini didesain oleh dua arsitek asal Kanada, Moriyama and Teshima, tapi dua gedung utama dan tamannya dirancang oleh arsitek berbeda. Museum Aga Khan didesain oleh Fumihiko Maki asal Jepang, Ismaili Center oleh Charles Correa, arsitek dari India dan tamannya oleh desainer lansekap kelahiran Lebanon, Vladimir Djurovic.

Maki mendesain Museum Aga Khan dengan gaya modern. Dinding luarnya berlapis granit Brazil dikombinasikan dengan kaca dan alumunium, sementara dinding interiornya berlapis batu limestone asal Italia berkombinasi kaca berpola serta baja dan alumunium. Lantainya didesain berpola mosaik, gabungan batu alam asal Prancis dan Brazil, granit Namibia dan kayu asal Indonesia. Bagian utama gedung ini adalah sebuah courtyard terbuka yang dikelilingi oleh dinding kaca tebal setinggi 13 meter yang dirancang dengan pola mashrabiya.  Dengan luas 10.500 m2, museum ini dibagi dalam beberapa galeri pameran, sebuah auditorium dan gudang.

Aga_Khan_Museum-collection

Koleksi permanen museum ini adalah seribu artefak, termasuk manuskrip, lukisan, keramik, gelas dan instrumen keilmuan yang semua terkait dengan peradaban Islam dari abad ke-18. Sejumlah program sudah disiapkan, antara lain pameran dari koleksi seni kontemporer Barjeel Art Foundation Sharjah, karya 12 seniman asal Timur Tengah dan Afrika Utara.

Adapun Ismaili Center (8.300 m2) lebih berupa sekumpulan ruang untuk aktivitas pengenalan dan pendalaman kultur dan agama Islam. Yaitu ruang shalat, perpustakaan, kelas, lounge dan ruang-ruang sosial lain.

Sementara tamannya (2.300 m2), didesain dengan konsep introspektif, ”Terinspirasi dari taman-taman islamis yang menenangkan dan seakan mengajak siapapun untuk memperlambat semua gerak,” terang Djurovic. Dilengkapi dengan 1.600 m jalur pejalan kaki, inti taman ini adalah lima reflecting pools berbahan granit hitam.  Rancangannya begitu filosofis, yang dilandasi nilai-nilai tradisional universal. Tidak kalah dengan bangunannya yang bermaterial dari segala penjuru dunia, taman ini pun ditanami aneka tanaman dari banyak belahan bumi. Antara lain Rosaceae family asal belahan bumi Utara, Russian sage, cedar hedges, rose glow barberry dan Chinese wisteria. Pepohonan itu dipilih yang tahan terhadap cuaca Kanada, sekaligus menarik burung dan kupu-kupu, sehingga bisa dikunjungi sepanjang tahun.

Proyek ini adalah proyek kesembilan the Aga Khan Trust for Culture (AKTC),  bagian dari the Aga Khan Development Network (AKDN), lembaga induk yang juga menyelenggarakan Aga Khan Award for Architecture.

ismaili_centre_aga_khan_museum_2014-08-25_aerial_photo_220_0 aga-khan-museum-toronto-001

(berbagai sumber)

housing-estate.com