Vida, Menghapus Stigma Negatif Bekasi

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Bekasi pernah di-bully sebagai kota dengan penataan amburadul, semrawut, dan infrastruktur buruk. Itu beberapa waktu lalu. Tapi sekarang, Bekasi justru semakin diincar para pencari properti, terutama kalangan kelas menengah yang tengah mencari rumah.

Karena di Bekasi-lah, waktu tempuh menuju Jakarta diklaim lebih singkat ketimbang kawasan-kawasan penyangga lainnya berkat jalur ganda commuter line. Dan karena di Bekasi pulalah, terdapat banyak konsentrasi hunian dengan harga miring di bawah Rp 500 jutaan.

Jadi, bukan tanpa alasan Gunas Land kemudian memperluas wilayah garapannya menjadi 130 hektar dari sebelumnya hanya 40 hektar untuk mengembangkan perumahan Vida Bekasi di Jl Raya Narogong.

Direktur PT Bina Nusantara Raya, Edward Kusma, mengatakan, strategi memperluas wilayah garapan adalah guna mengakomodasi semakin menguatnya permintaan akan hunian di kota dengan populasi 2,5 juta jiwa ini.

“Selain itu, orang yang mencari rumah di Bekasi didominasi end user (pengguna akhir) atau pembeli rumah pertama. Jadi, bisa dipastikan rumah-rumah yang dikembangkan akan dihuni, sehingga membuat kawasan perumahan menjadi hidup,” ujar Edward kepada Kompas.com, Rabu (5/8/2015).

Jika tingkat hunian sebuah kawasan tinggi, lanjut Edward, dapat dipastikan pertumbuhan investasi pun akan secara otomatis mengikuti. Pertumbuhan investasi tersebut terjadi secara alamiah, bukan hasil rekayasa berbau praktik spekulasi. 

“Karena tumbuh secara alami, harga lahan dan properti di sini hanya sekitar 10 persen hingga 15 persen. Namun, angka pertumbuhan ini real bukan ‘gorengan’,” imbuh Edward.

Sejak diluncurkan pada Oktober 2013, progres pembangunan Vida Bekasi dilakukan dalam beberapa tahapan. Di antaranya infrastruktur gerbang dan jalan, penataan danau buatan dan pembangunan empat klaster hunian pertama yang telah dihuni sebanyak 9.000 warga.

Adapun harga rumah yang ditawarkan berkisar antara Rp 300 juta untuk tipe 37/72 hingga Rp 1,3 miliar untuk ukuran 105/120. Total hunian yang akan dikembangkan di kawasan ini sebanyak 10.000-15.000 unit, lengkap dengan properti komersial, dan apartemen.

Sementara klaster perdana yang dibangun secara kolaboratif dengan PT Premier Qualitas Indonesia adalah Premier Savanna. Kondisi aktual klaster ini sudah terbangun 60 persen, dan kini sedang dipasarkan sisanya. Harga yang dipatok mulai dari Rp 600 juta sampai Rp 1,3 miliar per unit.


Pengelolaan sampah

Sebagai kawasan hunian berkelanjutan, Vida Bekasi dilengkapi berbagai fasilitas pendukung antara lain Bina Nusantara (Binus) School Bekasi yang akan dibangun di kluster Saraswati. Saat ini jalan aksesnya sudah terbangun, dan konstruksi sekolah akan dimulai pada 20 Agustus 2015. Pembangunan gedung Binus School Bekasi ini ditargetkan beroperasi pada tahun ajaran baru 2016. Binus School Bekasi merupakan cabang sekolah ketiga setelah Simprug dan Serpong.

Kehadiran fasilitas pendidikan berstandar tinggi tersebut, menurut Edward, berkontribusi terhadap prestis kawasan sekaligus mengatrol nilai investasi. Karena itu, selain menggenjot pengembangan fisik, Gunas Land juga membangun community development melalui program partisipatif dalam pengelolaan sampah bertanggung jawab (responsible waste management).

Pengembang ini menggandeng Waste4Change untuk mendorong perubahan sikap, dan kebiasaan warga terhadap sampah. Mereka dididik dan dilatih memilah sampah untuk kemudian dikelola secara lebih bertanggung jawab.

Inisiatif lainnya adalah digarapnya Farm4Life, kebun organik yang pupuknya diperoleh dari hasil pengomposan sampah warga. “Sudah saatnya masyarakat berubah pola pikirnya dalam memandang sampah. Sampah bukanlah sesuatu yang harus kita buang jauh-jauh, tetapi harus kita simpan dan kita kelola secara bertanggung jawab sesuai nilai guna sampah itu,” jelas perwakilan Waste4Change, Mohamad Bijaksana Junerosano.

properti.kompas.com