Sumber Ekonomi Jadi Hambatan Tinggal di Rusun

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Pemprov DKI Jakarta menghadapi tantantangan tidak mudah dalam menata permukiman penduduk.  Rumah susun sewa (Rusunawa) yang dibangun untuk memindahkan masyarakat yang tinggal di kawasan kumuh dan bantaran kali ternyata tidak mendapat sambutan positip warga.

Ilustrasi

Ilustrasi

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mensinyalir keengganan warga pindah ke rusunawa karena alas an sumber pendapatan atau ekonomi. Mereka itu menyewakan lahan atau rumah petak sehigga tidak ingin kehilangan pendapatan. Orang-orang seperti itu biasanya mengajak warga lainnya agar menolak dipindahkan ke rusunawa.

“Padahal seluruh fasilitas kita sediakan di rusunawa dan kita subsidi sampai 80 persen, warga cukup bayar iuran pemeliharaan harian Rp5.000 – 15.000. Kita punya rumah sendiri juga ada biayanya. Makanya kita akan terus dorong warga untuk tinggal di rusun, yang ngotot nggak mau itu biasanya punya petakan,” Basuki di Balaikota, menangapi masalah rawannya kebakaran di kawasan permukiman, di Jakarta Rabu (5/8).

Komentar Basuki tersebut sudah dikemukakan berulang kali menganggapi sulitnya warga dipindahkan ke rusunawa. Menurut Basuki, seringnya kebakaran di permukiman padat Jakarta itu tidak terlalu mengejutkan. Permukiman tersebut tidak sesuai dengan standar permukiman, seperti dinding rumah dari kardus, triplek, sambungan listrik sekedarnya. Rumahnya dempet-dempet di area yang bukan seharusnya, di kolong jembatan atau bantaran kali. Perilaku warga juga makin  berisiko terhadap terjadinya kebakaran, misalnya membakar sampah di pekarangan rumahnya.

“Makanya yang seperti ini mau saya gusur, saya pindahkan ke rumah susun sederhana sewa (rusunawa) sehingga  lebih teratur dan aman. Saya menggusur bukan karena kejam, justru untuk mencegah terjadi bencana,” ujarnya.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me