Tips Bong Chandra Mengatasi Apartemen Berhantu

Big Banner

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada September 2014 lalu menyatakan ada 2 juta unit rumah tak berpenghuni dan 200 ribu diantaranya ada di Jabodetabek. Sementara Djan Faridz, mantan Menteri Perumahan Rakyat menuding bahwa sebagian besar hunian kosong dimiliki oleh apartemen.  

Kekosongan apartemen atau rumah susun menurut Djan disebabkan oleh perilaku investor yang membeli unit apartemen untuk investasi. Mereka membeli tidak dengan niat untuk menempatinya, tapi menyimpan uang padahal mereka memiliki tempat tinggal di daerah berbeda.  

Fenomena seperti ini memang lumrah terjadi di kota-kota besar. Hanya saja, Bong Chandra, CEO Triniti Properti Group mengaku tak ingin tempatnya menjadi apartemen berhantu (kosong). Untuk mengatasi hal tersebut, ia pun meminimalisir aksi para investor properti. 

Seperti yang dipraktikkannya pada Yukata Suites. Menurutnya, target pasar apartemen yang berlokasi di Alam Sutera tersebut mayoritas adalah para end user (80 persen), sementara sisanya (20 persen) barulah untuk investor. 

“Saya nggak mau apartemen ini (Yukata Suites) berhantu atau kosong, saya mau Yukata Suites ditempati dan ada aktivitas di sana,” ucapnya, kepada tim Rumahku.com ketika ditemui di bilangan Alam Sutera, Tangerang. 

Bong melanjutkan, kebiasaan umum para pelaku investor adalah membeli apartemen unit studio atau one bed room untuk dijual lagi. Sementara Yukata Suites, tak menyediakan dua tipe itu, yang ada hanya two bedrooms, two bedrooms corner dan three bedrooms

Habit-nya adalah membeli unit termurah untuk dijual lagi, di sini kami menekan itu sekecil mungkin. Jadi pembeli kami adalah mereka yang memang serius untuk tinggal,” tambah Bong. 

Yukata Suites sendiri menurut Bong adalah apartemen berkonsep ‘Japanese Culture’ yang ditujukan untuk masyarakat lokal dan ekspatriat Jepang dengan range harga antara Rp 1,6 miliar hingga Rp 3 miliar.  

Bong juga berpendapat perihal warga negara asing yang diizinkan memiliki hak properti di Indonesia.

“Ini juga menjadi peluang bagi end user jika dikemudian hari mereka ingin menjual unit apartemenya kepada warga ekspatriat. Dengan harga segitu, mereka bisa menjualnya Rp 5 miliar, margin-nya bisa untuk mereka,” imbuh Bong.  

Pertumbuhan penduduk Jepang di Serpong sendiri menurut Bong cukup tinggi. Selain banyaknya restoran Jepang, dibangunnya mall AEON yang berasal dari Jepang memberi kesempatan warga negara matahari terbit itu untuk membentuk komunitas tersendiri.

rumahku.com