Kuil Tua di Jepang Terdesak Properti Komersial

Housing-Estate.com, Jakarta - Salah satu pemandangan menarik kota-kota di Jepang adalah keberadaan kuil-kuil tua Shinto di antara gedung-gedung modern. Menarik bagi turis asing, karena bisa jadi mereka ...

  • propertidata
  • 2017.05.13
  • 195

    view

  • Kuil Tua di Jepang Terdesak Properti Komersial

    Housing-Estate.com, Jakarta - Salah satu pemandangan menarik kota-kota di Jepang adalah keberadaan kuil-kuil tua Shinto di antara gedung-gedung modern. Menarik bagi turis asing, karena bisa jadi mereka melihat keselarasan antara bangunan kuno dan modern. Tetapi sebaliknya dengan jemaat dan pengelola kuil-kuil tua tersebut, mereka justru risau akan gencarnya pembangunan gedung-gedung modern itu yang membuat tempat ibadah mereka semakin terpencil. Contohnya di sebidang tapak di hutan tua Kyoto, di dekat kuil Shimogamo yang sudah masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia dari Unesco, saat ini sedang dibangun kompleks apartemen berharga 2 juta dolar AS atau lebih dari Rp 26 miliar per unit.

    Kebanyakan warga negara Jepang memang skeptis akan agama. Tidak heran kalau banyak tempat ibadah agama keturunan nenek moyang mereka kurang dihargai. Akibatnya, seperti diungkap oleh Yoshihide Sakurai, profesor sosiologi agama dan kepercayaan dari Universitas Hokkaido, sebagian besar dari 180.000 kuil kuno itu mengalami masalah keuangan. Bukan berarti kemudian para pendeta pengelola itu jadi berdiam diri, mereka justru berinisiatif untuk berbisnis, “menarik” dana dari investor. Caranya, dengan menyewakan untuk tempat hajatan, macam pernikahan, syukuran tahun baru, hingga kematian dan tidak memandang agama penyewa. Hal ini dilakukan, sebab 40 persen warga Jepang tak peduli dengan urusan kepercayaannya, misal agamanya Budha kemudian menyelenggarakan seremoni di kuil Shinto, tak masalah. Demikian hasil survei radio pemerintah Jepang, NHK. Tidak sedikit juga yang menyewakan untuk acara televisi.

    Hal tersebut akhirnya dilakukan sebab memelihara kuil tua bukan hal murah. Gedung-gedungnya kebanyakan sudah berusia ratusan tahun dan terbuat dari kayu, yang dihiasi aneka ornamen khas. Tidak bisa disalahkan juga jika para pendeta pengelola kuil itu kemudian berpikir ala pebisnis realestat, sebab kondisi properti di sana juga sedang mendukung. Seperti suku bunga yang super-rendah dan adanya pajak baru di mana mendorong para pensiunan untuk menaruh dananya ke properti sewa. Tahun lalu, nilai investasi realestat seperti ini diperkirakan mencapai sepertiga ekonomi Jepang.

    Wajar kiranya kalau investor mau bekerjasama dengan para pendeta kuil tersebut. Pasalnya kuil-kuil tersebut berlokasi di daerah strategis. Pengembang yang melirik tidak tanggung-tanggung, sekelas pengembang kelas kakap Sekisui House Ltd, bahkan operator kereta West Japan Raiwaly Co. Contohnya di kawasan pusat bisnis Osaka, sebagian bangunan kuil Budha Otna Shinshu yang biasa digunakan untuk tempat upacara perkawinan dan kematian, sudah dihancurkan. Akan berganti menjadi hotel 17 lantai yang akan dikelola Excel Tokyu Hotel Group dan siap beroperasi tahun 2019. Hal serupa juga sedang terjadi di lokasi kuil tua di Tokyo, di sini Mitsui Fudosan Co. sedang mebangun sebuah gedung perkantoran dan dua menara apartemen. Pengembang menyewa tapak tersebut dalam jangka panjang, mengingat lokasinya dekat dengan stasiun kereta.

    Contoh lainnya kompleks kuil Shinto Nashinoki, yang sudah berusia 100 tahun dan berada di sebelah tembok istana kerajaan Kyoto, pendeta pengelola sudah menyewakan sebagian tapaknya sejak tahun 2012 ke sebuah pengembang. Kini bangunan kuil tersebut justru seperti bagian dari kompleks properti komersial, karena diapit oleh dua gerbang belakang apartemen tiga lantai. “Jadi tidak enak dilihat,” komentar Mieko Okajima, turis asal Tokyo yang sedang berkunjung ke sini. Hal serupa juga bakal terjadi di kuil Shimogamo yang sudah berusia tujuh abad. Tepat di sebelah bangunan utama sedang dibangun apartemen yang merangkum 99 unit dan dua pertiganya sudah laris. Pengembangnya adalah anak usaha West Japan Railway dan menargetkan rampung Juni mendatang. Disebut-sebut begitu apartemen ini dihuni, harga tanahnya akan bisa menyaingi harga tanah di daerah termahal di Tokyo.

    Kondisi tersebut terjadi, sebab kota-kota di Jepang, bahkan termasuk Kyoto yang peraturan soal zonasinya sangat ketat, tidak ada regulasi untuk perlindungan bangunan kuil. Jadi, “Selama tidak melanggar ketentuan konstruksi, kami tidak bisa apa-apa,” kata Tomoko Uehara, Kepala Divisi Preservasi Sejarah Kota Kyoto.

    Bukan berarti kemudian tidak ada kompromi dari pihak pengembang. Salah satunya adalah dari Sekisui House yang menawarkan model baru, yaitu akomodasi ziarah. Jadi pengunjung yang memang bermaksud untuk ziarah bisa menginap di kuil, dan mengikuti tradisi keseharian para pendeta. Untuk itu, pengelola kuil bisa mengutip uang sewa dari para penziarah tadi dan meminta mereka juga untuk mau membantu pekerjaan para pendeta. “Ini sejatinya hampir serupa dengan bisnis hotel, tetap dengan gaya estetika Jepang tradisional,” ujar Masayoshi Kusunoki, juru bicara Sekisui House.

    Hotel-kuil Sekusui ini sudah dipasarkan sejak April lalu. Jaringan hotel Hyatt Regency menyatakan mau terlibat dan meningkatkan kelas kamar sewanya di lima kuil di Kyoto. Penginapan ini terbuka untuk umum, tanpa harus ikut upacara keagamaannya, bertarif 1.500 dolar AS (atau sekitar Rp20 juta) per orang per bungalow.

    Sumber: Bloomberg

    housing-estate.com

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci