Tangerang Kembangkan Potensi Komunitas Menuju Kota Cerdas

TANGERANG, KOMPAS.com – Dalam Indeks Kota Cerdas Indonesia 2015, Tangerang masuk tiga besar kota cerdas dengan penduduk lebih dari satu juta jiwa. Kota ini membawahi peringkat Depok, Bandung, Semarang dan hanya dikalahkan oleh Surabaya di peringkat pertama.

Apa yang istimewa dari kota Tangerang sehingga bisa dianggap kota cerdas?

“Inovasi yang dilakukan pemerintah kota kita, yaitu mengembangkan smart government. Bagaimana dengan sekitar 118 aplikasi itu bisa diterapkan tidak hanya lingkungan internal, tapi juga masyarakat,” ujar Wali Kota Tangerang Arief Rachadiono Wismansyah kepada Kompas.com, usai malam Penganugerahan Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2015, di Hotel Shangri-La, Jakart, Kamis (13/8/2015).

Arief mengatakan, Pemerintah Kota (pemkot) fokus mengembangkan komunitas dan menjadikannya cerdas. Menurut dia, kota cerdas sangat tergantung pada masyarakatnya. Dengan demikian, peran masyarakat adalah sebagai motor penggerak kota cerdas itu sendiri.

Dia menyebutkan, komunitas-komunitas yang ada di kota Tangerang mencapai hampir 68 jenis yang berbeda, antara lain komunitas peduli lingkungan, masyarakat kesenian, dan masyarakat budaya.

Komunitas ini didorong agar saling berinteraksi melalui media-media sosial sehingga mereka berbagi pengalaman.

Adapun dari sisi lingkungan, pemerintah mendorong implementasi kota hijau bersih melalui program yang didorong sampai ke tingkat RT dan RW. Program tersebut dinamakan Gerakan Kampung Bersih, Kampung Hijau dan Kampung Berkebun.

Pemindaian data administrasi

Arief juga menuturkan, pengembangan aplikasi di kota Tangerang tidak terhingga dan terbatas. Karena implementasi kota cerdas yang dikembangkan berbasis learning organization. Dengan basis pembelajaran ini, selalu ada perubahan peradaban tentang gaya hidup.

Selama ini, tambah dia, kota Tangerang banyak belajar dari kota bahkan negara lain yang berpengalaman. Contohnya, pada negara Swedia. Di sana, pemerintah telah menerapkan digitalisasi berupa pemindaian data kependudukan dari tahun 1999.

Menurut Arief, inovasi ini penting untuk mempermudah proses administrasi. Pemindaian ini akan diterapkan juga di kota Tangerang. Proses ini sudah dilakukan sejak dua bulan yang lalu.

“Masyarakat pada waktu ke depan ketika ajukan surat-surat tidak perlu lagi bawa hardcopy (salinan) karena data scanning sudah di-upload (diunggah) ke database (basis data) kita,” sebut Arief.

properti.kompas.com