Memilih saham big cap yang bisa menanjak

Big Banner

JAKARTA. Usai mencetak rekor baru di awal September lalu, tren Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah. Pada penutupan kemarin, IHSG melemah 0,09% menjadi 5.137,58. Di sisi lain, nilai tukar rupiah kian tersudut di hadapan dollar AS. Dengan situasi serba tak pasti ini, tak ada salahnya investor tetap melirik saham berkapitalisasi besar yang masih bisa bertahan di tengah pelemahan IHSG.

Thendra Chrisnanda, analis BNI Securities, menilai, koreksi IHSG menyebabkan hampir seluruh sektor saham melorot. Investor asing juga terus angkat koper dari pasar modal. Enam hari berturut-turut, pemodal asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) senilai Rp 4,46 triliun.

Koreksi IHSG juga terefleksi dari penurunan saham emiten berkapitalisasi besar alias big cap. Meski demikian, ada beberapa saham big cap yang masih berpotensi meningkat (potential upside). Menurut Thendra, saham konsumer masih memiliki ruang lebih besar menanjak ketimbang saham sektor lain. Pasalnya, sejak awal tahun hingga kemarin atau year to date (ytd), return saham konsumer tertinggal di belakang.

Kenaikan return saham konsumer lebih lambat daripada sektor lain. Return saham konsumer baru tumbuh 19,56%. Adapun IHSG sudah mencetak return 20,2%. Justru di tengah koreksi indeks, saham konsumer diharapkan tumbuh lebih cepat ketimbang saham lain yang tengah terkoreksi dalam. Dari sisi valuasi, saham konsumer memang lebih premium. Price earning ratio (PER) saham konsumer sebesar 28 kali. Sedangkan PER IHSG sebesar 20,8 kali.

Thendra membandingkan, saham perbankan yang awalnya bergerak tinggi, kini terkoreksi seirama penurunan IHSG. Dari sisi fundamental, saham konsumer cukup defensif dan bertahan di tengah turbulensi pasar. “Karena itulah, sektor konsumer dianggap masih murah di tengah pelemahan indeks,” ujar Thendra.

Jika Thendra melihat dari sisi potential upside, analis AAA Asset Management Akuntino Mandhany lebih memilih bersabar dengan kembali berkiblat pada saham tahan guncangan. Dia menjagokan saham yang laba bersihnya kemungkinan masih tumbuh, meski ekonomi Indonesia mengalami tekanan. Saham itu adalah TLKM, JSMR dan ASII. Namun dia menyarankan investor tetap menjaga kas semaksimal mungkin. Pasalnya, masih ada potensi koreksi IHSG dalam waktu dekat.

Thendra bilang, akumulasi buy bisa dimulai saat IHSG menembus level support di bawah 5.000. Rebalancing portofolio sudah bisa dilakukan. Menurut dia, akan ada pergeseran sektoral saham pilihan di tengah koreksi IHSG. Investor yang menggenggam saham sektor keuangan dan properti bisa mengalihkan ke saham konsumer dan perkebunan. Saham unggulannya adalah ICBP, LSIP dan AALI.

Analis KDB Daewoo Securities Taye Shim sepakat, sudah waktunya investor melirik kembali beberapa saham konsumer. Saham berkapitalisasi besar di atas Rp 5 triliun akan lebih kuat. “Kami melihat peluang dari perusahaan yang memiliki ROE di atas rata-rata,” ujar dia. Taye mengemukakan, ketika IHSG tertekan di akhir pekan lalu misalnya, UNVR, ICBP dan GGRM masih menguat.

Editor: Barratut Taqiyyah

investasi.kontan.co.id

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me