Atasi Backlog, Kota Baru Perlu Dikembangkan

Bisnis.com, BOGOR— Sejumlah kalangan menilai pengembangan  kota mandiri perlu dilakukan untuk menekan angka defisit hunian atau backlog. Sejalan dengan hal itu pembangunan infrastruktur juga harus dipercepat.

Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Syarif Burhanuddin, mengatakan jumlah backlog yang mencapai 15 juta bisa dikurangi dengan pembangunan kota-kota baru.

Dia menambahkan, pemerintah tengah menyiapkan kota baru di Maja, Banten untuk dikembangkan lebih lanjut.

“Sekarang Maja dikeroyok ,” ujar Syarif  kepada Bisnis.com di sela perayaan 41 tahun Perum Perumnas di Bogor, akhir pekan lalu.

17 Pengembang

Saat ini, 17 perusahaan pengembang telah memiliki cadangan lahan dengan total area mencapai 9.000 hektar. Gong pembangunan kota Maja telah dimulai sejak 17 tahun lalu. Maja didapuk sebagai Kota Kekerabatan lewat SK Kementrian Perumahan Rakyat No.02 /KPTS/M/1998.

Sementara itu, Director Jababeka Hospitality Management Rully Lasahido menuturkan sebuah kota baru perlu memiliki basis yang menjadi crowd puller atau menarik massa. Sebagai contoh, di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat perusahan membuat kota baru dengan basis industri, sehingga menarik investor dan juga para pekerja untuk tinggal di dalam kawasan.

Kemudian di Tanjung Lesung, Pandeglang Banten, Jababeka menawarkan konsep yang berbeda dengan pariwisata sebagai dasar pengembangan sebuah kota. Daya tarik pariwisata inilah yang akan mengembangkan usaha penginapan, wisata edukasi bahari, dan aktivitas sejumlah komunitas.

Basis ini lambat laun buka hanya berfungsi menjadi destinasi sesaat, tetapi juga menyediakan tempat tinggal bagi para pekerja ataupun pelajar di dalamnya.

“Cikarang merupakan kawasan industri yang bertransformasi menjadi township atau kota baru. Konsep itu bisa dimasukan ke pariwisata dan diterapkan di Tanjung Lesung,” ujarnya kepada Bisnis.com di sela acara Peringatan HUT RI Ke-70 di Tanjung Lesung, Senin (17/8/2015).

Setelah crowd puller terbentuk, hal yang penting lainnya ialah konektivitas atau ketersambungan. Rully mencontohkan adanya tol Cikopo – Palimanan (Cipali) menghidupkan usaha dan pengembangan hunian di sekitar akses tersebut.

Kemudian dalam sektor pariwisata, keberadaan lapangan terbang di Banyuwangi dan Jember, Jawa Timur sukses mendongkrak kedatangan turis, sehingga semakin menghidupkan bisnis perhotelan.

Oleh karena itu, sebuah kota baru perlu memiliki akses transportasi yang menunjang mobilitas, sehingga masyarakat tertarik untuk menjadikannya sebagai tempat tinggal.

Maksimalkan Pemekaran

Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional Ferry Mursyidan Baldan menuturkan pemerintah pusat sudah tidak akan lagi menunjuk sebuah kawasan untuk menjadi kota baru, seperti yang terjadi pada Depok beberapa tahun silam. Namun, dia menekankan pentingnya pembangunan sebuah area yang mengalami pemekaran, seperti di Sulawesi Barat dan Kalimantan Utara.

“”Tidak perlu penunjukan kembali area baru, tetapi kota yang mengalami pemekaran seperti Mamuju dan Tanjung Selor agar dimaksimalkan pembangunannya,” ujarnya pada Bisnis beberapa waktu lalu.

Salah satu tujuan pemekaran daerah ialah membuat penyebaran penduduk menjadi lebih merata. Oleh karena itu, pada kota-kota baru desain RTRW  (Rencana Tata Ruang Wilayah) perlu diperjelas, termasuk area yang menjadi kawasan hunian ataupun kawasan ekonomi.

properti.bisnis.com