Hunian Subsidi Indonesia Hadapi Banyak Hambatan

Program Sejuta Rumah (PSR) sampai saat ini masih menghadapi banyak hambatan sehingga belum bisa mencapai target. Terutama hunian bersubsidi bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Data Kementerian ...

  • propertidata
  • 2017.06.08
  • 227

    view

  • Hunian Subsidi Indonesia Hadapi Banyak Hambatan

    Program Sejuta Rumah (PSR) sampai saat ini masih menghadapi banyak hambatan sehingga belum bisa mencapai target. Terutama hunian bersubsidi bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyatakan hingga kuartal I 2017, realisasinya baru mencapai 169.614 unit.

    “Rumah subsidi permintaannya sangat tinggi, tapi untuk mengurusnya tidaklah mudah. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Selain biaya produksi yang tinggi, bahkan sering
    tak imbang dengan harga jual, ketersediaan lahan pun semakin sedikit,” kata Asmat Amin, praktisi hunian subsidi Indonesia.

    Lebih lanjut Asmat mengatakan, penentuan lokasi perumahan sangatlah penting. “Kita harus lihat aksesnya, apakah transportasi tersedia? Jangan sampai nanti ketika kita menempati unit, mau kemana-mana sulit. Dan jangan lupa mengenai kandungan air bawah tanah, ada atau tidak? Jika ada, apakah bisa dikonsumsi untuk kepentingan rumah tangga?” papar Asmat.

    Memang tak mudah membuat semua orang senang. Tapi, untuk urusan membangun rumah subsidi, menurut Asmat, setidaknya masyarakat yang masuk dalam kategori MBR bisa memiliki rumah sendiri dan hunian yang dibangun-pun merupakan “rumah tumbuh”. Jadi masih memungkinkan membangun satu atau dua kamar lagi sesuai kebutuhan dan anggaran yang dimiliki.

    “Idealnya rumah subsidi atau rumah murah itu dekat dengan tengah kota, tapi apa daya, memang tak mungkin. Saya paham kemauan banyak orang, tapi harga tanahnya di tengah kota, bahkan yang dekat tengah kota saja sudah melambung tinggi. Mau dijual berapa,” ujar Asmat yang juga menjabat sebagai Managing Director di SPS Group.

    Hambatan lain yang dihadapi hunian bersubsidi bagi MBR adalah adanya BI checking atau laporan Bank Indonesia sebagai syarat Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Asmat berharap pemerintah melonggarkan syarat tersebut. “Di beberapa lokasi yang kita buka, misalnya 1000 unit, yang ditolak karena BI Checking bisa 500 unit atau setengahnya,” ujar Asmat seraya mengatakan masyarakat belum terlalu memahami aturan tersebut. Pada banyak kasus, masyarakat memiliki tunggakan pinjaman di bank, misalnya untuk pembelian sepeda motor.

    Saat ini SPS Group, kata Asmat, tengah fokus di Perumahan Villa Kencana Cikarang, di Cikarang Utara, yang awal Mei lalu Presiden Jokowi hadir dan meresmikan secara langsung rumah khusus MBR itu. Sementara di selatan Cikarang SPS Group membangun Grandvista Cikarang. Villa Kencana Cikarang memiliki luas lahan 105 hektare dan 160 hektare untuk Grandvista Cikarang dengan total unit sekitar 23.000 untuk dua proyek tersebut.

    “Tahun ini kami sedang mempersiapkan membuka proyek baru di tiga lokasi di Timur Jakarta. Kami juga menargetkan pembangunan sebanyak 15.000 unit di tahun ini. Karena bicara rumah subsidi adalah bicara kecepatan,” kata Asmat seraya mengatakan bahwa menyediakan rumah subsidi adalah perpaduan antara “Bisnis dan Ibadah”. YS

    mpi-update.com

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci