Bandung Teknopolis CBD Berbasis TI, Investasi Rp 100 T

Big Banner

Jakarta, mpi-update. Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi reguler Agustus 2015 menurunkan profil Bandung Teknopolis . Sebuah komplek bisnis terpadu (CBD) atau  central business district yang  berbasis teknologi komunikasi dan informasi mirip Silicon Valley di Amerika Serikat.  Proyek ini diperkirakan menelan investasi sekitar Rp 100 Triliun.

Saat ini sedang dalam proses perijinan. Pernah tertunda selama sepuluh tahun kini  Ridwan Kamil, Walikota Bandung memimpin realisasi dan kini  telah sampai pada tahap memroses perijinan beberapa perusahaan yang akan terlibat dalam pembangunan kawasan seluas 800 ha tersebut.

“Saya punya mimpi kota ini menjadi kota futuristik di Indonesia, karena menggunakan urban desain dan arsitekturnya sudah didesain sedemikian rupa,” papar Ridwan Kamil seperti dikutip di MPI.

Konsep Teknopolis jauh lebih besar dan komprehnsif dibanding sebuah technopark.  Proyek ini diproyeksikan dapat menampung 80-an ribu penduduk baru dan menghasilkan 400-an ribu lowongan pekerjaan baru dari perusahaan global.

Bandung Techopolis seluas 800 ha direncanakan sebagai white collar city, yaitu pusat riset dan perusahaan global yang mencakup bisnis digital media, biopolis, kreatif, dan science, yang bukan berbentuk pabrik ataupun laboratorium.

Kota berbasis tenknologi, menurut Ridwan, dinilai penting untuk mengangkat peradaban suatu bangsa karena dari kota tersebutlah lahir penemuan-penemuan inovasi. “Kita harus serius melihat peta dana riset negara-negara dunia terhadap inovasi. Investasi terhadap riset berbanding lurus terhadap penemuan-penemuan inovasi.  Inovasi yang memiliki nilai ekonomi itulah yang menjadi pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Lokasinya di Kecamatan Gedebage, Bandung Timur, diproyeksikan membutuhkan dana 100 triliun. Sebelumnya, di lahan ini sejumlah pengembang hanya akan membangun perumahan. Dengan hadirnya ide baru Bandung Teknopolis, maka segala sesuatunya disempurnakan lagi. Mulai dari infrastruktur hingga aspek ekonominya.

Saat ini menurut Emil, telah banyak investor asing yang menunggu peresmian proyek ini agar dapat segera bergabung.  Kalau terwujud, perusahaan-perusahaan seperti Google dan facebook dapat berdampingan di lokasi yang sama. Seperti dari Arab Saudi, Jepang, dan Singapura.

Proyek rencananya dikelola oleh delapan stakeholder ini, akan memiliki pusat riset, zona startup, serta kantor-kantor yang melengkapi standar kota mandiri, seperti hunian, kantor, pusat komersial, dan fasilitas lain. Lingkungan hidup di tempat tersebut juga bakal dikelola dengan baik. Direncanakan, ada dua danau besar dengan luas masing-masing mencapai 30 hektare untuk menampung dan mengatur air untuk mengatasi banjir dan sebagai sumber air minum.

Penataan transportasi juga masuk dalam rencana tata kelola kawasan ini. Monorel dan guide bus akan dipersiapkan untuk menghubungkan pusat kota Bandung dengan kawasan ini. Akses baru untuk Bandung Teknopolis telah disiapkan exit tol 149 yang akan mulai dikonstruksi tahun ini. Pemerintah pusat akan turut andil dengan menyiapkan rencana kereta supercepat Jakarta-Bandung yang diproyeksikan memakan waktu 30 menit saja. Kawasan Bandung Teknopolis akan menjadi stasiun pemberhentian terakhir untuk kereta cepat tersebut.  (MPI/HS)

 

mpi-update.com