Tinggal di Menara Pencakar Langit yang Punya Tiga Waktu Berbuka Puasa

Burj Khalifa, Dubai, Uni Emirat Arab (Rumah123/Visit Dubai)Jika kamu tinggal di suatu wilayah, maka kamu akan mengikuti waktu yang sama untuk menyantap makan sahur dan berbuka puasa.Pernah membayangkan ...

  • propertidata
  • 2017.06.14
  • 235

    view

  • Tinggal di Menara Pencakar Langit yang Punya Tiga Waktu Berbuka Puasa



    Burj Khalifa, Dubai, Uni Emirat Arab (Rumah123/Visit Dubai)

    Jika kamu tinggal di suatu wilayah, maka kamu akan mengikuti waktu yang sama untuk menyantap makan sahur dan berbuka puasa.

    Pernah membayangkan kalau kamu berada di gedung yang sama, tetapi kamu harus berbuka dengan durasi waktu yang berbeda? Kamu pasti bilang nggak mungkin kan?

    Baca juga: “Sarang Nyamuk” Seluas 12 Meter Persegi, Mau Tinggal di Sini?

    Bagi kaum Muslim yang tinggal di menara pencakar langit tertinggi di dunia, Burj Khalifa harus melakoni buka puasa dalam tiga waktu berbeda lho.

    Sebelumnya, Komisi Fatwa Uni Emirat Arab sudah merilis fatwa kalau umat Muslim yang tinggal di menara ini harus menyesuaikan waktu berbuka dan shalat tergantung di mana mereka tinggal.

    Baca juga: Harga Apartemen Semakin Tidak Terjangkau, Developer Hong Kong Bangun Unit Mini

    Head of Ifta Centre di Islamic Affairs and Charitable Activities Department, Dr Ahmed Al Haddad menyatakan kalau Burj Khalifa terbagi dalam tiga waktu untuk berbuka puasa. Pembagian segmen ini berdasarkan saat matahari “terlihat” oleh penghuni gedung. By the way, Burj Khalifa memiliki tinggi 828 meter dan terdiri dari 160 lantai.

    Mereka yang tinggal di lantai 80 ke bawah bisa berbuka dengan waktu yang sama dengan kawasan tersebut. Kalau ada adzan Magrib dikumandangkan dari masjid atau terdengar dari televisi, mereka bisa langsung bisa berbuka.

    Baca juga: Kejayaan Kesultanan Bengal Menginspirasi Desain Masjid di Bangladesh

    Untuk mereka yang tinggal di lantai antara 80 hingga 150 alias ketinggian 414 meter di atas permukaan laut, mereka baru bisa berbuka dua menit setelah adzan berkumandang. Mereka juga baru bisa shalat Isya dua menit setelah adzan, sebaliknya mereka dapat shalat Subuh dua menit sebelum adzan berkumandang.

    Nah, bagi mereka yang tinggal pada lantai 150 ke atas atau pada ketinggian 800 meter lebih, mereka harus menunda berbuka puasa tiga menit setelah adzan. Hal yang sama untuk shalat Isya. Sebaliknya, mereka bisa shalat Subuh tiga menit sebelum adzan.

    Baca juga: Lahan Makin Sempit? Bikin Aja Perumahan Terapung!

    “Terlepas dari di mana pun kamu berada, kamu perlu memerhatikan posisi matahari saat terbenam atau terbit. Anda tidak bisa berbuka puasa sampai matahari terbenam. Sebenarnya, kamu bisa melihat matahari tenggelam,” ujar Dr Al Haddad seperti dilansir oleh The National.

    Aturan ini juga harus menjadi panduan saat sahur atau ketika menyantap makanan untuk berpuasa dan juga shalat malam.

    Baca juga: Yuk, Lihat Art Center Terbaru di Beijing, Kayak Apa Sih?

    Sebenarnya peraturan ini didasarkan pada panduan dasar kalau seseorang berada di tempat tinggi, semakin lama dia akan melihat matahari tenggelam lantaran pandangan ke depan lebih jauh dalam posisi ini. Fatwa ini juga berlaku pada lokasi lebih tinggi.

    “Bahkan, saat Anda berada di pesawat, Anda baru bisa membatalkan puasa ketika matahari sudah terbenam di area saat pesawat berada. Anda tidak bisa berbuka puasa jika matahari masih bersinar terang di sekitar Anda dan belum terbenam,” kata Dr Al Haddad.

    rumah123.com

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci