Kemerdekaan, Perahu Bidar, dan Tradisi Sumatera Selatan

Big Banner

PALEMBANG, KOMPAS.com – Lomba Perahu Bidar tak bisa lepas dari penyelenggaraan peringatan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Demikian halnya dengan tahun 2015. Tradisi yang melekat erat dalam keseharian masyarakat Sumatera Selatan ini terus digelar, kendati setiap tahunnya jumlah peserta lomba menyusut.

Termotivasi membantu melestarikan tradisi ini, PT Jasa Marga (Persero) Tbk sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) penyelenggara jalan tol memberikan bantuan tambahan hadiah untuk Lomba Perahu Bidar. 

“Menyadari kondisi jumlah peserta Lomba Bidar yang setiap tahun semakin berkurang, kami berinisiatif untuk memberikan bantuan kepada para peserta Lomba Bidar dengan memberikan tambahan hadiah kepada para pemenang,” ujar Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Adityawarman, yang juga menjadi Koordinator Kegiatan HUT ke-70 Republik Indonesia di Sumatera Selatan, Senin (17/8/2015).

Tambahan hadiah ini diberikan kepada Juara I, II, III dan Harapan I Lomba Bidar. Untuk Juara I diberi tambahan hadiah Rp 45 juta, Juara II Rp 35 juta, Juara III Rp 25 juta dan Juara Harapan I mendapat tambahan Rp 15 juta rupiah.

Mendengar adanya tambahan hadiah dalam Lomba Bidar tahun ini, mewakili para pemilik perahu Bidar Yahya Yusuf, merasa bersyukur. Menurut dia, para pemilik perahu Bidar sudah menunggu cukup lama kepedulian dari berbagai pihak.

Yahya yang juga menjabat sebagai Ketua DPD Kerukunan Keluarga Palembang Provinsi Bangka Belitung menilai, bantuan ini bisa menjaga agar budaya ini tidak lenyap ditelan zaman.

“Untuk membuat perahu Bidar dibutuhkan sekitar Rp 65 juta per perahu. Kalau setiap BUMN di Sumatera Selatan ini peduli dengan menyumbang satu Bidar, maka lomba Bidar tahun depan bisa diikuti lebih dari 20 peserta,” jelas Yahya.

Sejak lebih dari 40 tahun lalu, penyelenggaraan Lomba Perahu Bidar di Sumatera Selatan, khususnya di Sungai Musi Palembang, selalu ramai oleh penonton. Bahkan, banyak masyarakat yang menyaksikannya dari atas Jembatan Ampera, sebagai ikon Kota Palembang yang sudah mendunia. Dengan dukungan Pemerintah Kota, setiap HUT Kemerdekaan RI, Lomba Perahu Bidar selalu ditunggu masyarakat Palembang, bahkan sampai mancanegara.

Jumlah peserta lomba perahu bidar ini bisa mencapai lebih dari 30 peserta dan perlombaan diselenggarakan selama 2 hari. Itu terjadi sekitar 20-30 tahun lalu. Namun, beberapa tahun terakhir, pesertanya mulai berkurang.

“Lima tahun lalu, jumlah perahu Bidar yang ikut dalam lomba sebanyak 15 perahu. Tahun 2013 sudah tinggal 12 perahu. Tahun lalu tinggal 8 perahu. Dan waktu perlombaan cukup satu hari saja,” ujar Yahya yang saat ini memiliki dua perahu Bidar.

Yahya juga menjelaskan, untuk merawat Bidar ini, selain membutuhkan biaya yang cukup tinggi, bahan baku kayunya juga sulit didapatkan. Untuk mendapatkan kayu, masyarakat harus menempuh perjalanan jauh di hutan di kawasan hulu Sungai Musi. Sedangkan untuk membawanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 hari.

Kondisi ini dibenarkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palembang Yanurpan, yang setiap tahun menyelenggarakan perhelatan Lomba Perahu Bidar ini. Pihaknya menyadari, bahwa para peserta Lomba Perahu Bidar ini setiap tahun mengalami penurunan.

“Oleh sebab itu, upaya yang kami lakukan adalah memberikan biaya pemeliharaan Bidar sebesar Rp 5 juta per perahu mulai tahun lalu,” sebut Yanurpan.

Dia menyadari, upaya ini memang belum maksimal, karena kebutuhan untuk pemeliharaan Bidar per tahunnya lebih dari itu. Oleh karena itu, perlu dukungan dari berbagai pihak, termasuk BUMN, agar budaya asli Kota Palembang ini dapat dipertahankan.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me