Bisnis Properti Sedang Seret, Harga Rumah Ukuran Kecil Naik

Big Banner

Perlambatan sektor properti Tanah Air terpotret jelas dalam survei yang rutin digelar Bank Indonesia (BI). Penjualan rumah pada kuartal II-2015 hanya tumbuh 10,84 persen, kurang dari separuh pertumbuhan penjualan pada kuartal I-2015 yang mencapai 26,2 persen. Penurunan penjualan paling banyak terjadi untuk rumah kelas menengah. Secara lokasi, penjualan rumah paling seret selama April hingga Juni 2015 terjadi di Medan. Perlambatan diperkirakan akan berlanjut pada kuartal III-2015. Pada kuartal II-2015, hanya rumah tipe kecil saja, yang menunjukkan kinerja kenaikan dimana harga dan penjualannya tumbuh cukup tinggi. 

Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia yang dilakukan pada periode triwulan II-2015 terindikasikan bahwa ada perlambatan pertumbuhan harga properti residensial di pasar primer baik secara triwulanan maupun tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial pada triwulan II-2015 yang tumbuh sebesar 1,38% (qoq) atau 5,95% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat 1,44% (qoq) atau 6,27% (yoy).

Perlambatan pertumbuhan harga terjadi pada semua tipe rumah, kecuali rumah tipe kecil yang mengalami kenaikan harga sebesar 2,60% (qoq) atau lebih tinggi dibandingkan kenaikan triwulan sebelumnya yang sebesar 1,98% (qoq). Melambatnya kenaikan harga diperkirakan masih akan berlanjut pada triwulan III-2015. Perlambatan kinerja properti juga tercermin dari pertumbuhan penjualan properti residensial pada triwulan II-2015 yang sebesar 10,84%, (qoq), lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang sebesar 26,62% (qoq). Perlambatan penjualan terutama terjadi pada rumah tipe menengah.

Hasil survei juga menunjukkan bahwa pembiayaan pembangunan properti residensial masih bersumber dari dana internal pengembang. Sebagian besar pengembang (62,57%) menggunakan dana sendiri sebagai sumber pembiayaan usahanya. Sementara itu, sumber pembiayaan konsumen untuk membeli properti masih didominasi oleh pembiayaan perbankan (KPR) dimana sebanyak 72,20% responden masih memanfaatkan KPR sebagai fasilitas pembiayaan dalam pembelian properti residensial, khususnya pada rumah tipe kecil.

Berdasarkan rilis BI tersebut, Kota Pontianak tercatat mengalami pertumbuhan harga rumah terkecil secara kuartalan, terutama untuk rumah ukuran besar. Adapun secara tahunan, kenaikan harga terkecil terjadi di Bandar Lampung dan Padang.  Sebaliknya, harga rumah secara kuartalan melejit di Batam dengan pertumbuhan harga 5,65 persen terutama ditopang kenaikan harga rumah ukuran besar. Adapun harga rumah naik tertinggi secara tahunan di Makassar dan Manado.

 

 

 

 

Stephanie Rebecca/VMN/VBN/ Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Jul Allens

vibiznews.com