Properti Komersial Stagnan

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Tekanan tak hanya terjadi di sektor properti residensial yang ditandai dengan menurunnya penjualan, juga di sektor properti komersial. Menurut Hasil Survei Properti Komersial yang dilansir Bank Indonesia (BI) pekan lalu, sektor ini secara umum mengalami stagnasi.

Indikasinya adalah pasokan properti komersial sewa, terutama convention hall  mengalami penurunan di wilayah Jabodebek pada triwulan II-2015. Penurunan dan stagnasi terjadi baik secara triwulanan maupun tahunan.

Penurunan pasokan convention hall sebanyak 1.612 meter persegi. Hal ini disebabkan kegiatan renovasi/pemugaran yang dilakukan hotel di kawasan Jakarta dan diperkirakan baru akan selesai pada tahun 2018 mendatang. Pasokan properti komersial sewa yang relatif stabil juga terjadi di beberapa daerah.

Berdasarkan kawasan, penambahan pasokan hotel yang signifikan terjadi di Semarang. Kota ini menambah 110 kamar hotel dari Grand Edge yang merupakan hotel bintang empat pada Mei 2015. Sementara pasokan perkantoran sewa di Surabaya mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi sejalan dengan mulai beroperasinya City of Tomorrow.

Dalam periode tahun berjalan hingga akhir 2015 diperkirakan terdapat tambahan pasokan dari beberapa proyek ritel di wilayah Jabodebek seperti Lippo Mall Puri, Mall Pantai Indah Kapuk, One Bel Park, dan Central Park Extension.

Selain itu juga akan terdapat tambahan pasokan apartemen sewa seperti TBS Linera Apartment Service, Fraser Place Setiabudi Sky Garden (Tower III, Oakwood at District), Pejaten Park Residence dan Fraser Suites at Ciputra World.

BI memperkirakan pasokan properti komersial sewa juga akan meningkat di beberapa wilayah seperti Bandung, dengan penambahan pasokan Premier Inn Hotel dan Pullman Hotel. Demikian halnya di Medan dengan penambahan pasokan dari The Tiara Mall, Podomoro City Deli, serta Northcote Supermall dan Ring Road City Walk.

Naik tipis

Tingkat hunian properti sewa komersial di Jabodebek pada kuartal II-2015 meningkat tipis dibandingkan triwulan sebelumnya. Kondisi ini tercermin dari tingkat hunian ritel sewa di Jabodebek yang meningkat dari 96,90 persen menjadi 97,34 persen, apartemen sewa naik dari 81,33 persen menjadi 88,11 persen, convention hall dari 68,22 persen menjadi 79,88 persen maupun okupansi hotel berbintang (bintang tiga ke atas) yang bergeser dari 54,04 persen menajdi 55,99 persen.

Hanya, secara tahunan beberapa properti komersial sewa di Jabodebek seperti perkantoran dan perhootelan tercatat mengalami penurunan dibandingkan kinerja periode yang sama tahun sebelumnya. Tingkat hunian properti komersial sewa yang meningkat tipis ini juga terjadi di sejumlah daerah.

Kenaikan tingkat hunian yang cukup signifikan terjadi pada convention hall  sebesar 17,09 persen secara triwulanan atau 25,53 persen secara tahunan seiring dengan banyaknya kegiatan pameran di berbagai sektor seperti busana, furnitur, teknologi terbarukan, dan beberapa wisuda dari berbagai universitas.

Tingkat hunian yang cukup tinggi juga terjadi pada apartemen 8,34 persen secara kuartalan atau 4,86 persen secara tahunan karena tingginya permintaan dari eskpatriat yang mulai bekerja di Indonesia pada awal pertengahan tahun 2015.

Sejalan dengan kenaikan tipis pada tingkat hunian, tarif sewa properti komersial di Jabodebek secara triwulanan juga menunjukkan pertumbuhan. Kenaikan tertinggi tarif hotel di wilayah Jabodebek sebesar 9,37 persen secara triwulanan dengan banyaknya kegiataan pertemuan. Apartemen sewa juga mengalami pertumbuhan 5,75 persen secara triwulanan.

Sementara tarif kamar hotel di sejumlah daerah seperti Banten, Bandung, Makassar, Medan, Semarang, dan Surabaya justru mengalami penurunan sejalan dengan menurunnya permintaan, karena faktor penurunan aktivitas selama bulan puasa.

 

properti.kompas.com