Bisnis Properti Pariwisata Masih Prospektif

Big Banner

Jakarta – Bisnis properti pariwisata terus bergulir. Saat ini, setidaknya ada tujuh proyek resort dan hotel senilai tak kurang dari Rp 30 triliun yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Bagi pengembang, properti pariwisata menjadi salah satu penyumbang pendapatan berkesinambungan (recurring income) utama. Besaran pendapatan berkesinambungan terus meningat menjadi berkisar 30-50% terhadap total pendapatan pengembang.

“Kedepan, kami fokus menggarap proyek properti pariwisata karena potensinya sangat bagus,” ujar President Director PT Trias Jaya Propertindo (TJP) Djaja Roeslim.

Dia mengatakan, langkah masuk ke segmen ini seiring dengan fokus pemerintah yang mengembangkan pariwisata di tiga titik utama, yakni Greater Bali termasuk Nusa Tenggara Barat. Lalu, Greater Jakarta termasuk Bandung dan Greater Batam termasuk Bintan. Pengembangan tersebut diharapkan mendongkrak tingkat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Pemerintah sendiri menargetkan kunjungan turis asing mencapai 12 juta pada 2015. Bahkan, target itu membengkak menjadi 20 juta turis asing pada 2019 atau rata-rata naik 16% sepanjang lima tahun terakhir.

“Properti pariwisata juga disinergikan dengan industri kreatif seperti film dan wisata Di Batam, kami membangun Movie Town yang membidik para artis dan pekerja film,” papar Djaja Roeslim.

Properti pariwisata, kata dia, berupa fasilitas penginapan seperti resort atau hotel. Keberadaan penginapan tersebut menggantungkan pendapatan dari aktifitas pariwisata maupun industri kreatif seperti pembuatan film.

Saat ini, setidaknya ada tujuh proyek resort besar yang sedang digarap di Indonesia. Beberapa proyek itu antara lain The Haven Bintan Resort (Kepulauan Riau) senilai Rp 9,8 triliun dan Kawasan wisata Tanjung Lesung (Banten) senilai Rp 7 triliun. Selain itu, proyek Monaco Bay, Manado (Sulawesi Utara) senilai Rp 6 triliun serta Melia Hotels dan Land & Ocean Resort Development Pte Ltd di Bintan (Kepulauan Riau) senilai Rp 910 miliar.

“Kami menggarap sejumlah proyek di berbagai wilayah senilai total Rp 460 miliar yakni Gili Air Lagoon Resort (NTB), Paramapada Jimbaran (Bali), dan Town Movie (Batam),” kata Djaja Roeslim.

Keberadaan proyek-proyek properti tersebut memetik peluang di tengah pertumbuhan pariwisata. Namun, bisa juga sebaliknya, kehadiran proyek mendongkrak industri pariwisata di wilayah setempat.

Investor Daily

Imam Mudzakir/Edo Rusyanto/FER

Investor Daily

beritasatu.com