Indonesia Tuan Rumah Kongres Arsitek Asia Pasifik

Big Banner

Jakarta – Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah kongres profesi Arsitektur Lansekap Asia Pasifik (International Federation of Landscape Architects – Asia Pacific Region). Kali ini, kongres digelar 7-9 September 2015 di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menurut Ketua Panitia Penyelenggara Anggia Murni, diambilnya Lombok sebagai tempat kongres IFLA sekaligus memperingati 200 tahun meletusnya Gunung Tambora di Sumbawa.

“Lombok ini memiliki sejarah yang cukup panjang terutama dampak dari meletusnya Gunung Tambora, karena itu kami pilih kota ini sebagai ajang Kongres ke Tiga IFLA,” kata Anggia Murni, di Jakarta, baru-baru ini.

Dia menjelaskan, para arsitek lanskap dunia, dan terutama di Indonesia memiliki tantangan cukup besar ke depannya. Tantangan itu terutama dalam rangka memertahankan lingkungan yang harus tetap terjaga dan hijau. Karena itu, panitia akan mengangkat model perencanaan, pembangunan, penataan kota dan pengelolaan lanskap yang dapat menonjolkan potensi fisik, visual, ekonomi dan sosio kultural yang bermanfaat bagi keamanan dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

Sementara itu Sekretaris Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian PUPR Dadang Rukmana mengatakan, peran dan profesi arsitek lanskap sangat dibutuhkan dalam rangka menciptakan kawasan perkotaan yang tertata dengan baik, sehingga tidak menjadi kawasan yang kumuh.

“Sebelum Kementerian PUPR terbentuk, Kementerian PU telah menginisiasi UU penataan ruang, di mana dalam UU tersebut ditegaskan bahwa pada kawasan perkotaan diharuskan memiliki RTH seluas minimal 30% dari keseluruhan kawasan terbangunnya,” kata dia.

Dia menambahkan, angka tersebut sangat fantastik karena selain menunjukkan adanya upaya tata kota ke depan lebih liveable dan sustainable, juga memberikan peluang bagi profesi arsitek lanskap. Hal itu, karena rata-rata ruang terbuka hijauh (RTH) di kawasa perkotaan saat ini masih sekitar 11% dan angka itu masih dirasa kurang.

Dadang menjelaskan, berbagai program pembangunan infrastruktur berkonsep hijau (green development) yang melibatkan profesi arsitek lansekap telah dijalankan. Program itu antara lain Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) di 137 kota/kabupaten (2011-2015), Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP), dan symbiocity di 2 kota (Palu dan Probolinggo).

Selain itu, Ecodistrict di 9 kota/ kabupaten (Mataram, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Metro, Singkawang, Wonosobo, Jombang, Purbalingga), dan Kota Cerdas (smart cities) di 5 kota/kabupaten (Banda Aceh, Bogor, Bandung, Makassar, Tangerang).

Sementara itu, Majelis Arsitek Lansekap Indonesia Bintang Nugroho mengatakan, pihaknya akan berupaya konsisten dengan perjuangan dari arsitek lanskap untuk menata kota dengan baik. Selain itu, pihaknya tidak akan tergiur oleh iming-iming pengembang untuk mengubah wajah kota ataupun sebuah proyek properti.

Imam Mudzakir/FER

Investor Daily

beritasatu.com