Perbesar Porsi “Recurring Income”, Gapura Prima Tahan 20 Persen Unit Apartemen

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Ada beragam siasat yang ditempuh pengembang untuk menambah portofolio yang bisa meningkatkan posisi towar demi menggaet banyak investor atau pemilik modal. Salah satunya dengan memperbanyak porsi sumber pendapatan berulang (recurring income). 

Gapura Prima Group hanyalah satu dari sekian banyak pengembang yang menempuh cara ini. Apartemen Belmont Residences yang dikembangkannya, tidak seluruhnya dilepas ke pasar. Sekitar 20 persen hingga 30 persen disimpan sebagai aset recurring income. 

Menurut Direktur Operasional Belmont Residence Amin Maulana, anak usaha Gapura Prima Group yakni PT Mitra Abadi Sukses Sejahtera (MASS), menyimpan beberapa unit di menara Athena.

“Kami juga sediakan 10 unit untuk dijadikan apartemen servis di tiap lantainya. Hal ini merupakan komitmen untuk perawatan gedung yang kita bangun. Jadi tidak setelah bangun, terjual habis, kemudian ditinggalkan,” ujar Amin kepada Kompas.com, usai seremoni tutup atap Athena Tower di Belmont Residence, Jakarta Barat, Sabtu (5/9/2015).

Apartemen yang disimpan oleh perusahaan ini, nantinya disewakan kepada publik dan menjadi sumber pendapatan berulang. Bukan hal baru memang, seperti diakui Komisaris PT MASS Arvin Iskandar.

Praktik yang dilakukan MASS sudah biasa dilakukan oleh pengembang lainnya dengan menyimpan 20 persen hingga 30 persen unit dari satu apartemen. Meski begitu, jumlah unit yang disimpan PT MASS tidak selalu sama di setiap apartemen. Perusahaan melihat dulu kondisi pasarnya.

“Kembali pada demand, kalau kita harus jual, kita jual. Hal ini untuk mempertahankan harga dan nilai (value) juga,” jelas Arvin.

Dia melanjutkan, jika antusiasme pembeli luar biasa, perusahaan akan mengurangi jumlah unit yang disimpan, supaya pembeli tidak kecewa. Di Menara Athena, terdapat 20-30 persen yang disimpan perusahaan dari total 450 unit. Jika dijumlahkan, ada 80-100 unit yang menjadi recurring income perusahaan.

Menara Athena dibangun di atas lahan 1 hektar, tepatnya di Jalan Lapangan Bola Meruya Ilir, Jakarta Barat. Terdiri atas 21 lantai dengan varian tipe studio seluas 17,9 meter persegi, satu kamar tidur 28,8 meter persegi, satu kamar tidur 26,95 meter persegi, dua kamar tidur 37,61 meter persegi, dua kamar tidur 35,17 meter persegi, dan tiga kamar tidur (55,37 meter persegi). Harganya dibanderol mulai dari Rp 600 juta hingga Rp 1,9 miliar.

Saat ini, proses pembangunannya sudah mencapai tahap penutupan atap. Sebanyak 60 persen unit sudah terjual sejak diluncurkan pada akhir 2014 silam. Perusahaan menginvestasikan dana sebesar Rp 200 miliar untuk pembangunannya. Adapun dua menara sebelumnya, yaitu Everest dan Mount Blanc, sudah lebih dulu terbangun. Masing-masing terjual 100 persen dan 90 persen. Tiga menara ini berada di lahan seluas 2,3 hektar dengan 400 unit tiap menara.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me