Pakai KPR Bank atau Tunai Bertahap?

Housing-Estate.com, Jakarta - Sekian tahun belakangan ini penawaran cara bayar yang memudahkan konsumen membeli rumah dan apartemen sangat banyak ditawarkan developer dan bank. Bank menawarkan kredit pemilikan ...

  • propertidata
  • 2017.09.11
  • 928

    view

  • Pakai KPR Bank atau Tunai Bertahap?

    Housing-Estate.com, Jakarta - Sekian tahun belakangan ini penawaran cara bayar yang memudahkan konsumen membeli rumah dan apartemen sangat banyak ditawarkan developer dan bank. Bank menawarkan kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA) dengan bunga promo yang rendah dengan masa fixed (tetap) makin lama (hingga lima tahun), pengembang menawarkan cara bayar tunai bertahap yang makin panjang (hingga 10-15 tahun!) atau mendekati tenor KPR/KPA yang umumnya 15–20 tahun. Mana yang lebih bagus bagi konsumen, membeli rumah dengan KPR atau secara tunai bertahap alias menyetor langsung ke rekening developer?

    Foto : dok. majalah housing estate

    Maryono, Direktur Utama Bank BTN, bank penyalur KPR terbesar di Indonesia, dengan tegas menyatakan: dengan KPR! Terlebih untuk rumah yang dibeli untuk dihuni sendiri, bukan untuk investasi. “Karena jauh lebih aman dan terjamin. Bank akan mengecek legalitas proyek dan kredibilitas developernya serta meminta garansi developer bahwa proyeknya pasti dibangun sesuai janji. Tenor kredit pun bisa jauh lebih lama sehingga cicilannya lebih ringan,” jelasnya dalam sebuah perbincangan dengan housing-estate.com beberapa waktu lalu.

    Ia mengakui, membeli dengan KPR menuntut konsumen menyediakan uang muka dan membayar biaya-biaya legalitas serta biaya KPR. Tapi, nilainya moderat baik untuk konsumen maupun bank. Yaitu, rata-rata 15–20 persen dari harga rumah. Pendapat senada diutarakan Dewi Damajanti Widjaja, Senior Vice President, Head Mortgage VC Bank Permata. “KPR adalah cara tercepat, termudah, dan teraman memiliki rumah dengan dana terbatas,” katanya kepada housing-estate.com. Apalagi, sekarang banyak bank menawarkan bunga promo yang kian rendah dengan masa fixed lebih lama, bunga pasar juga makin murah, yang memberi kesempatan konsumen menarik nafas setelah membayar depe dan biaya-biaya pembelian rumah.

    “Kredit pengembang lebih cocok untuk pembelian rumah bertujuan investasi,” kata Maya. Prosesnya sederhana, tidak se-njelimet KPR, bisa tanpa uang muka, cukup tanda jadi, rumahnya bisa indent (masih berupa gambar dengan janji serah terima kemudian) yang keberapapun juga, dan tenornya secara umum pendek saja (maksimal lima tahun). Ia menambahkan, membeli rumah secara tunai bertahap, apalagi di proyek yang reputasi developernya belum diketahui, apalagi dengan masa tunai bertahap yang panjang, sangat berisiko. Pegangan konsumen hanya janji dan komitmen developer plus surat bukti pemesanan rumah dan/atau perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) di bawah tangan.

    Bila terjadi wan prestasi seperti serah terima rumah terlambat atau bahkan gagal dibangun, posisi konsumen sangat lemah. Beda dengan investor. Mereka berani memilih cara bayar tunai bertahap karena sudah punya perhitungan properti yang dibelinya akan memberikan keuntungan (return) yang memuaskan. Mereka biasanya juga sudah mengenal baik reputasi developernya. Kemudahan cara bayar, ekspektasi kenaikan harga rumah, dan harga rumah dengan cara bayar tunai bertahap yang kadang lebih rendah daripada bila dibeli dengan KPR itu, menjadi pertimbangan mereka memilih cara bayar. Semua risiko sudah diperhitungkan investor, bahkan seandainya terjadi keterlambatan serah terima rumah sekalipun. High return, high risk.

    housing-estate.com

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci