Pertumbuhan Harga Properti Mewah Jakarta Tertinggi Kedua Se-Asia Pasifik

Big Banner

Satu perusahaan konsultan properti dalam risetnya menyampaikan pertumbuhan harga properti residensial mewah di Jakarta meningkat signifikan. Per kuartal II/2015, pertumbuhan harga Ibu Kota Negara meraih peringkat kedua tertinggi dibandingkan kota besar di negara Asia Pasifik lainnya.

Berdasarkan data yang dirilis Jones Lang LangSalle (JLL), Jakarta mengalami peningkatan harga properti residensial mewah per triwulan pada kuartal II/2015 sebesar 4,2%. Dalam periode yang sama, secara tahunan nilai jual naik 10,4%.

Manila menjadi satu-satunya kota di atas Jakarta yang juga mengalami kenaikan harga secara signifikan. Ibu Kota Filipina tersebut mencatatkan kenaikan nilai jual secara triwulan dan tahunan pada kuartal II/2015 sejumlah 4,5% dan 14,5%.

Head of Advisory data Jones Lang LangSalle (JLL) Research Vivin Harsanto menuturkan pertumbuhan harga properti mewah di Jakarta sangat bagus. Kota besar di negara tetangga lain seperti Singapura dan Kuala Lumpur, Malaysia justru mengalami tren perlambatan.

Pada kuartal II/2015, kenaikan nilai jual properti mewah Singapura tergerus 2% dibandingkan triwulan sebelumnya dan melandai 8,9% dibandingkan kuartal II/2014.

Menurut Vivin, pasar domestik yang begitu kuat menjadi penyebab utama harga properti mewah di Jakarta terus bertumbuh. Jumlah permintaan memang terganggu dengan kondisi makro ekonomi secara nasional, tetapi kebutuhan residensial masih cukup tinggi.

Jones Lang LangSalle mencatat dari total sekitar 100.520 unit apartemen di Jakarta, suplai kelas mewah dengan harga di atas Rp40 juta per m2 berkisar 10% – 15%.

Terkait pembukaan kesempatan kepemilikan properti oleh orang asing, lanjutnya, tidak akan terlalu memengaruhi kenaikan permintaan di segmen tersebut.

“Sebetulnya sih akan ada efeknya, tapi tidak terlalu signifikan. Karena market yang besar ada di menengah dan menengah ke atas. Kalau yang di atas pasarnya tipis,” ujarnya seperti dilansir Bisnis.com.

Dia melihat dalam situasi ekonomi yang belum bergairah seperti sekarang, developer cenderung memasarkan ataupun mengembangkan proyek yang sudah ada. Sepanjang semester I/2015 juga belum ada pengembang yang meluncurkan properti mewah yang baru.
 
Pasar properti secara umum untuk residensial ataupun rumah vertikal memang sedang melambat. Pada semester I/2015 permintaan turun 16% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu. Namun, mulai kuartal III/2015 penjualan kemungkinan besar akan naik.

Vivin berpendapat sampai dengan kuartal I/ 2016 masih tetap terjadi perlambatan penjualan, walaupun harga tetap mengalami kenaikan. Namun, dalam jangka panjang setelahnya, bisnis properti akan kembali bertumbuh signifikan, baik dari segi suplai, permintaan, maupun harga. (as)

ciputraentrepreneurship.com