Kecil, Dampak Kepemilikan Asing di Unit Apartemen

Big Banner

Jakarta – Konsultan properti Colliers Internaional menyatakan wacana kebijakan kepemilikan asing terhadap apartemen yang berharga Rp10 miliar ke atas diperkirakan hanya bakal berdampak kecil kepada sektor properti secara keseluruhan.

“Isu kepemilikan asing masih belum jelas, yang diusulkan pemerintah properti di atas Rp10 miliar,” kata Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto di Jakarta, Selasa (6/10).

Menurut Ferry, bila memang akan diaplikasikan batasan Rp10 miliar ke atas untuk apartemen yang boleh dimiliki asing, maka hal itu hanya berdampak kecil karena apartemen dengan batasan itu hanya sekitar satu persen dari seluruh properti apartemen yang ada di Jakarta.

“Efeknya hanya akan terdampak pada 1 persen apartemen di Jakarta,” katanya.

Pada saat ini saja, ujar dia, pihak pengembang telah menerapkan sejumlah cara agar dapat menawarkan harga yang lebih tinggi seperti menawarkan apartemen dengan “semi-furnished” (sudah diisi sejumlah perabot).

Sebelumnya, Real Estat Indonesia (REI) Khusus Batam pesimistis dengan paket kebijakan ekonomi yang ditetapkan Presiden Joko Widodo terkait peningkatan investasi di sektor properti, terutama kepemilikan asing.

Ketua REI Khusus Batam Djaja Roeslim di Batam Kepulauan Riau, Kamis (10/9), menyatakan kebijakan peluang investasi kepemilikan rumah susun mewah oleh warga negara asing masih terlampau tinggi untuk diterapkan di Batam.

Pasalnya, menurut dia, kebijakan itu membatasi kepemilikan properti oleh WNA hanya untuk rumah susun mewah dengan harga minimal Rp10 miliar, padahal harga apartemen di Batam jauh lebih murah.

Menurut dia, kebijakan ekonomi itu hanya akan berpengaruh di Jakarta, yang harga propertinya memang relatif tinggi.

Seharusnya, lanjutnya, pemerintah menyesuaikan kebijakan dengan karakteristik wilayah, agar peningkatan industri properti bisa dirasakan di daerah lain, tidak hanya Jakarta.

Salah satunya dengan pengategorian batasan harga properti sesuai zona, yaitu Batam, Jakarta dan Bali, tiga daerah yang propertinya paling diminati WNA.

“Misalnya di Batam, harus ada penyesuaian dengan harga propertinya. Idealnya, kalau di Batam itu batasan harga jual apartemen Rp5 miliar, itu sudah sangat mewah,” kata dia menjelaskan.

Bila pemerintah menerapkan itu, maka ia yakin properti Batam akan bergairah, karena warga Singapura akan berlomba-lomba memiliki apartemen di kota itu.

/FER

Antara

beritasatu.com